Pages

Selasa, 13 April 2010

Saya ingin hidup tanpa kesia - siaan

Mati sia - sia menurut saya adalah saat sebelum mati, saya belum sempat melakukan apapun dalam hidup, sekecil apapun bentuknya, dan apa serta siapa yang merasakan akibat dari perlakuan saya. Saya tidak pernah ‘memaksa’ hidup saya untuk menjadi sesempurna pandangan orang lain. Toh, apapun yang saya lakukan dalam hidup, kan saya yang akan menerima imbas baliknya.

Saya hanya ingin menghabiskan sisa hidup saya dengan terbang kemana pun, tak akan saya hiraukan orang yang berteriak memaksa saya singgah. Meski dengan terbang, sayap saya akan kelu, lalu tersangkut didahan meranti. Lah kalo tersangkut, paling juga luka, atau paling mentok sayap saya patah. Biarlah, biarlah patah. Kalau hanya dengan itu ‘keliaran’ saya akan terhenti.

Saya tidak pernah bersusah payah ‘merancang’ hidup saya dimalam hari untuk kemudian menuntut diimplementasikan di sepanjang hari besoknya. Saya hanya bisa pasrah pada otak yang memerintahkan kaki untuk melangkah selanjutnya. Terserah, terserahlah kemana tujuannya, tidak pernah saya berpusing - pusing ria memikirkannya.

Saya hanya ingin menuangkan sedikit air pada bunga Melati yang teronggok layu disudut pekarangan dengan pucuk - pucuk muda yang harusnya sudah timbul sekarang. Yah, hanya sedikit air, karena persediaan saya memang terbatas. Setidaknya Melati itu tidak mati hari ini. Meski air itu hanya air bekas jilatan kucing berhari - hari lalu yang sudah berlumut. Biarlah, Melati itu pun tidak bakalan tersinggung. Kalaupun dia tersinggung dan merengut, saya tinggal bilang ” Udah, sukurin ajha, masih mending kamu saya kasih air. Atau mau saya mandikan dengan air termos..??? ” Beres…!!!

Saya hanya ingin duduk diam dipeluk angin dan bercumbu dengan debu jalanan, meski saya tau orang akan menjauhi saya karena keadaan saya yang menjijikkan. Saya tidak ambil pusing. Yang bau dan dekilkan saya…!!! Siapa suruh punya hidung sensitif.

Saya hanya ingin berlari, berlari sekuat kemampuan saya. Tak mengapa kalau akhirnya saya bengek, yang penting saya sudah berlari dan merasakan sendiri dan bukan hanya dari cerita orang.

Saya keras kepala..??? Memang..!!! Lalu kenapa kalau saya keras kepala..??? Saya menyebalkan..??? Betul sekali…!!! Ada masalah..??? Saya hanya ingin hidup sebebas yang saya mau. Tanpa ada orang yang bersuara, termasuk kamu, kawan…!!! Karena jika saya nanti mati, saya tidak mati sia - sia karena saat hidup, saya sudah melakukan yang saya mau.

Sebenarnya, gampang sekali memahami saya. Duduklah dengan tenang disamping saya tanpa bersuara, lalu saya pastikan bahwa saya akan berubah menjadi peri yang manis. Bahkan sangat manis sekali..!!! Jangan memusingkan saya dengan komentar yang melepuhkan telinga, karena saya akan semakin ‘liar’. Jangan hiraukan ketika saya mulai tertawa terbahak bersama embun dan gelegar petir, karena sesudahnya saya akan siap mendengarkan semua wejangan mu, kawan. Yang paling fatal, jangan pernah merantai sayapku, teman…!!! Karena itulah nyawaku.

Akan ada saat nanti saya akan menjadi budakmu dan melepaskan semua atribut ‘kebinalan ‘ saya, tapi bukan sekarang. Tunggulah, akan datang saatnya. Mungkin sebentar lagi, asal kamu bersedia bersabar.. Sekali lagi, Itulah mengapa saya tidak mau mati sia - sia.

0 komentar:

Posting Komentar