Pages

Selasa, 01 Juni 2010

Pemuda - Pemuda Rapuh Penatap Masa Depan

" Buyung, kau antarlah dulu pesanan orang ni.. "
" Nanti saja lah, Mak."
" Nanti kau bilang ? Tak pernah lah kau menuruti kata Amak ni. "
" Uda Safli sajolah yang mangantakan nyo, Mak.. "

Safli yang disebut namanya mendelik.
" Tak ada mata kau menengok aku yang sedang kerja ni rupanya ya..! "

Safli tersulut emosi. Anak pembangkang tadi tetap saja acuh dan melesat menuju gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.
***
" Sudah berapa kali Ibu bilangin, kurangilah bermain dengan anak laki - laki. Tidak baik ! "
" Gak punya teman lagi, Bu. Aauuww...!!! Pelan - pelan nyisirnya. Sakit, Bu. "
" Rambut kamu ini kusut. Sama kayak otak kamu ini ! Tunggu disini, Ibu ambil minyak kemiri dulu "

Ibu anak itu beranjak kesudut meja rias. Menggapai minyak kemiri, si anak melesat dari kamar begitu lengannya lepas dari cekalan sang Ibu. Menuju gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.
***


" Bukannya saya yang ndak bisa ngurus anak, Bu. Tapi memang nakalnya yang ndak ketulungan. "
" Alaah.. Aku saja yang punya anak sebelas masih bisa sambil nyuci kain orang kok. "

Si Ibu masih mencoba mencari pembelaan diri.
" Beda, Bu. Anak ini memang ndableknya minta ampun. "
" Ndak alasan itu.! Mana anak mu itu ? Le.. dimana kamu ? Sini sama Eyang Putri.. "

Perdebatan antara menantu dan mertua itu semakin sengit saja. Bocah liar yang jadi sumber masalah muncul. Menenteng sendal Yumeida usangnya. Eyang Putri nya senyum. Sayang, senyum Eyangnya itu masih kalah pamor dengan gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


***


Kriiieeettt
Suara jendela dibuka perlahan, tubuh kurus tinggi, melongo dari jendela. Bosan dia dengan agenda tidur siang yang tidak pernah membawanya kedunia petualangan. Tak perlu meminta persetujuan Babah nya dia kabur. Menuju gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


***

" Pokoknya, kalo minggu ini kalian belum bayar utang. Cari saja meja sayur lain ! "
" Minggu ini, mudah - mudahan kami lunasi, Pak. Sungguh "
Si penagih berlalu. Tinggallah suami dan istri saling pandang kebingungan.

" Bagaimana ini, Pak ? Apa bagusnya si sulung kita berhentikan sekolah saja ? "
" Jangan !! Bagaimana pun dia harus sekolah !! Tak boleh bernasib lebih sial dari kita. Titik !! "

Sisulung yang mendengar Ayahnya dibentak si penagih, mendidih darahnya. Woy !! Ayahku baru saja kecelakaan, monyong !! Tidak lihat memangnya ? Berjalan saja masih pengkor ?!. Tentu saja hanya dalam hati, tak berani lebih keras. 

Dia harus meredakan darah anak - anaknya yang menggelegak. Harus cari tempat menyembunyikan gemetar dada yang naik turun. Menuju gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


 ***

Kapal bekas pengangkut pengungsi Vietman belasan tahun lalu itu teronggok begitu saja di tengah semak ini. Berbagai tumbuhan paku memagari sekeliling. Tak satu pun orang dewasa pernah mendatangi tempat ini. Selain menganggap tidak ada makhluk lain selain hantu yang menghuni areal ini, tempat ini juga tidak seluruhnya tembus cahaya siang.
Cukup lima anak kebal setan berusia 8 tahun saja yang menjadikan tempat ini sebagai taman bermain mereka. Bahkan puluhan kuburan tua tak terawat itu yang mereka jadikan tempat persembunyian saat bermain petak umpet. Beberapa nisan kuburan dijadikan pemukul bola kasti, bahkan alat mencolok mangga ranum jika mereka kelaparan dari aksi meloloskan diri dari rumah.

Disinilah mereka berlima selalu berkumpul. Setiap hari. Tempat mereka melarikan kecemasan, kegalauan, memamerkan kenakalan, gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.



***

" Kenapa lama sekali si Cina itu datang ? " Anak perempuan itu menggerutu.

" Tunggu sajolah sabanta lai. Baok kan tanang. " Anak pemilik warung nasi itu santai saja.

" Mungkin dia masih disuruh membeli jeruk Mandarin sama Babahnya " Anak pedagang sayur tadi berceloteh. Menghindari kesedihan hatinya, juga kesedihan Bapaknya tentu saja.
Anak satunya lagi diam saja. Dia memang bisu.
***

" Hey, kau lihat ini ! Hebat benar bukan ? Ini ikan laga terhebat yang aku punya. Lihat ! "
Si Bisu memperhatikan ikan laga teman perempuannya itu. 

" A... Aaa.. Aua.. " Sibisu meliukkan lengan kanan ke tangan kirinya. Membuat formasi tabrakan.

" Hhmmm.. Punyamu masih kalah dibanding punya ku ini ! " Anak Cina itu mencibir si Bisu.

" Banyak gaya kau, kawan ! Punyamu saja sampai putus siripnya waktu lawan punyaku kemaren. Huh..!! " Ikan laga si anak tukang sayur itu memang jago.

Dengarlah repetan anak tukang nasi Padang ini, " Hei, kau. Macam punya kau sajo nan paling hebat. Kan lah pana kalah pas tanding punya awak. ! "

Itulah kelima anak aneh yang tidak punya teman selain mereka - mereka saja. Bukan tidak mau bergabung dengan anak lain, tapi mereka terlalu sering diolok - olok anak komplek super keren lainnya. 

Bagi lima anak ini, kesalahan terbesar adalah saat orang tua mereka harus membangun rumah liar bertriplek di belakang tembok Perumahan elite ini. Maka, tak ada tempat buat mereka selain gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


***

" Kenapa harus ambil FKIP? Kau kan jago Kimia waktu sekolah dulu ? " Si anak pemilik warung nasi bertanya keheranan.

" Aku mau jadi guru. Biar kalau sukses nanti buka sekolah sendiri. Ngasih beasiswa buat anak miskin kayak kita ini." Jauh sekali cita - cita anak tukang sayur itu.

" Tapi kan anak miskin kayak kita ini segudang. Lah mau makan apa kau nanti, kalo semua murid digratisin." Sambil mencelupkan tangannya ke kolam bau amis, dia bertanya.

" Kan masih ada anak kaya yang otaknya tumpul. Tinggal peras saja orang tua untuk les - les ini - itu. Toh orang tuanya tidak perduli kok.! Yang penting anak nya pintar, terus di bayar.Ya kan ? " Kira - kira begitulah arti perkataan si bisu. Bertahun - tahun berteman sejak kecil, sudah paham mereka semua maksud bicara sibisu itu.

" Kau benar, bisu ! Orang kaya kebanyakan cuma cari uang. Anaknya bodoh - bodoh." Tentu saja anak Cina ini asal bicara berdasarkan otak miringnya kebanyakan menelan asap dupa.



***

" Hah ?? Akuntansi ?? " Serempak ketiga temannya berteriak kaget campur bingung.

" Kau gila ? Kau kan bodoh sekali Akuntansi ! " Itulah arti bahasa tubuh si bisu

" Mau apa lagi ? Kata ayahku, tidak ada guna nya itu wartawan. Lagi pula, Ayahku yang kolot itu memaksaku jadi dokter saja. Mana aku mau! Ayahku keras kepala. Dan aku menurunin wataknya. Kalau aku tak diizinkan jadi Wartawan, aku pun tak ingin jadi dokter.!! Dia pikir bisa menyetir hidupku. ? Dia lupa aku ini titisan Setan pengungsi Vietnam.." Tersenyum puas si perempuan.

Mereka tertawa berpelukan. Menatap langit, meminta restu akan nasib baik dimasa mendatang. Lagit itu tidak akan berhianat. Ini masih langit yang sama, langit yang menaungi gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


***

" Aku ingin tetap meneruskan usaha warung nasi Padang Ibuku. Setidaknya, dengan modal jadi babu pencuci piring di hotel itu aku bisa kolaborasi nasi Padang dan makanan Prancis, sesuka ku. "

" Walaupun aku tidak jadi wartawan, siapa tau saja nanti aku akan bekerja sebagai Akuntan diperusahaan  koran ternama. Berjumpa banyak wartawan. Mulai dari sekarang aku harus mati - matian mempelajari Jurnal - jurnal itu. "

" Aku akan menjadi guru yang baik. Menjadi pendidik yang lurus. Walaupun nanti niatku membuka yayasan tidak tercapai, setidaknya aku bisa memujuk para pemberi dana menyekolahkan anak miskin seperti kita. "

" Aku akan menjadi supir angkot. Cuma itu pekerjaan yang tidak perlu banyak bicara, kurasa. Lagi pula, aku jago membawa mobil. Dan tidak ada larangan orang bisu untuk membuat SIM. Tabungan dari hasil jadi kuli angkut terminal sudah mulai banyak "

" Aku akan mengizinkan kalian untuk mengutang ditokoku nantinya. Aku akan sekolah bisnis. Lalu membuka toko dari hasil keringatku jadi pengajar sempoa "

" Dan kita akan jadi orang besar...!!! "

Sore mulai menampakkan Jingga nya. Lima remaja tanggung duduk bersisian ditepi pembatas jalan yang lengang. Menatap laut lepas dengan hiasan kapal diujung sana.

Langit cerah bermandikan awan, kontras dengan langit biru yang mulai mengalah pada Jingga senja. Yang mulai berarak membawa impian mereka kelangit ketujuh, melewati awan, menderu laju menuju pintu langit. Untuk kemudian berhenti didepan Singgasana Tuhan, bersipuh memohon kemurahan hati Sang Penguasa, mengabulkan mimpi masa depan mereka.

Kelima remaja tanggung itu masih tetap bersama, setidaknya pada hari ini. Mereka sudah punya cita - cita dan sedang tunggang  - langgang mewujudkannya. Itulah yang membuat mereka sedikit layak disebut manusia , hanya karena secuil harapan masa depan. Sedikit rapuh memandangi perjalana cita dan asa mereka. Mereka tidak akan salah langkah. Mereka punya hati yang menuntun dan membedakan mereka dengan yang lainnya. Hati yang tumbuh dibesarkan gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.

0 komentar:

Posting Komentar