Pages

Rabu, 30 Juni 2010

Ayah menyumpahi Pukat Harimau.

Kata ayah dulu, kalau awan sedang bergumpal - gumpal dan berarak seperti sekarang, berarti ikan sedang bertelur dan nelayan akan panen tangkapan. Ku iya kan saja.
 
Ibu bilang, kalau ayah nanti berlayar, aku dan tiga adikku akan dijaga Mak Ngah. Ibu mau ke kota kecamatan. Ada yang butuh orang gajian disana. Aku menurut saja.


*****


” Sudah seminggu kalian disini. Tak juga datang Mak mu itu, uangku sudah habis untuk makanmu. “

Aku belum mengerti apa maksud Mak Ngah. Ku diam kan  juga. Mak Ngah memang biasa merepet panjang tak karuan seperti ini. Sudah tabiatnya.


*****


” Jangan lupa kau belajar. Nak Dara itu harus pula bersekolah. Kau ingatlah itu. “

” Pensilku tak ada lagi. “

” Kalau mak dah dapat uang, nanti mak belikan. Belajar sajalah yang rajin. Jaga juga adik mu ya.”

Itu kata ibu, sebelum Mak Ngah tiap hari berwajah masam padaku. Kalau sudah merepet panjang seperti ini, anak Mak Ngah yang tujuh orang itu menjauh, tak mau jadi korban selanjutnya.


*****


” Tiap hari yang kau kerjakan cuma belajar saja. Nanti pun cuma jadi istri pelaut. Sudah selesai jaring itu kau kerjakan ? “

Aku mengangguk.

“Kalau bukan anak adikku, sudah lama kau dak disini. Makanmu banyak ! “

Lagi - lagi aku diam. Kulihat Bang Yus keluar rumah.

” Yus, nak kemana kau ?  Aih, anak bujang dirumah ini pun dak ada yang bisa melegakan hati.”


*****


Ayah pulang melaut, tangkapan tak banyak. Pukat Harimau, katanya. Ibu tak juga pulang, sudah dua purnama. Tak ada yang tau di rumah mana ibu jadi orang gajian.

Sekarang aku dan adik tinggal dengan ayah, sebenarnya kami lebih sering ditinggal. Kalau malam ayah selalu ke kedai Wak Mira, minum kopi dan berbual sambil memakai sarung.

Belakangan ini, nelayan tak banyak tangkapan. Pukat harimau berulah, itu saja pembicaraan bapak - bapak di kedai sana. Sampai bosan aku mendengar.


*****


” Kalau nanti kalian harus kawin, kuharamkan kawin dengan orang pukat harimau itu ! Bikin sial ! “

Kadang aku heran, kenapa ayah jadi marah tentang pukat itu ke kami ? Ah, sudahlah, biarkan saja. Mungkin ayah juga bingung mengurus empat anak tanpa istri. Ibu belum juga pulang.


*****


Mak Ngah datang kerumah siang - siang.

” Ayah kalian ditahan polisi. Dia membunuh orang. “

Aku kaget, tak mungkin ayah membunuh. Itu bukan tabiatnya.

” Cepatlah ! Kita ke kecamatan sekarang. “


*****


” Ayah membunuh orang pukat harimau itu ! Biar dia jera, tak lagi menyiksa nelayan. “

Kudengar polisi memanggil nama ayah, istri yang dibunuh ayah tak terima kalau ayah hanya di penjara saja. Mungkin dia ingin meludahi orang yang membunuh suaminya.

Aku mengiringi ayah keruang yang diperintah polisi. Sudah ada perempuan menunggu disana, dia istri orang yang mati itu. Aku gemetar, tapi ayah tenang saja. Perempuan itu menoleh ke kami. Wajahnya tak asing. Dia ibu kami.

Read more...

Sabtu, 26 Juni 2010

Seperti Radit dan Jani.

Sepasang kekasih itu lari saja menerobos rintikan hujan di Juni petang ini. Tak mereka gubris satpam mini market yang terseok - seok memegangi tali pinggangnya yang melorot. Yang dikejar tertawa saja, puas berhasil mencuri sekaleng biskuit dan beberapa teh botol, sekalian saja mereka menertawakan satpam yang akhirnya tak sanggup mengejar langkah - langkah panjang mereka. Satpam itu lupa, dia pernah bersumpah akan menangkap pengutil tetap di tempatnya mendapat upah.


****


” Kita seperti Radit dan Jani ya. “

” Iya, hanya saja aku lebih cantik dari si Jani. Dan kau tak sekurus si Radit, sayang. “

Lagi - lagi mereka terhanyut dalam buaian cinta tanpa syarat yang mereka arungi. Indah, juga memabukkan.


****


” Aku akan bilang apa sama Bapakmu itu ? “

” Bilang saja kau cinta aku. Habis itu kita kawin. “

” Kalau tak setuju ? “

” Kau culik saja aku ! Bodoh ! “

Setelah percakapan itu, mereka tak pernah kembali lagi untuk memohon restu dari siapa saja. Terlalu banyak syarat yang diberikan pada orang yang saling mencintai. Basi ! Kalau saling cinta, kenapa harus ditentang ?!


****


” KIta bilang saja sudah kawin kalau ada yang nanya. Beres. “

” Kalau mereka tanya surat nikah ? “

” Kita karang sajalah alasan yang masuk akal. “

” Apa misalnya ? “

” Rumah lama kita kebakaran. “

Kedua remaja itu kini mencoba bahagia. Makan dari hasil apa saja. Tak penting itu halal - haram. Dosa urusan belakang. Tuhan pasti maklum, mereka juga ingin senang.


****


Bulan belasan kali sudah melenggang. Dua manusia itu kini makin terbiasa dengan hidup rock n roll versi mereka. Serampangan tak karuan. Tapi, inilah seni nya cinta. Jika muluk - muluk saja, maka akan tak bernada.

” Sampai kapan kita hidup seperti ini ?  Aku lapar “

” Sabarlah, besok aku akan kerja. Butuh tukang parkir dilapangan olah raga itu, katanya. “

” Sampai kapan kau mau jadi tukang parkir ? “

” Sampai ada uang terkumpul untuk kita buka usaha. “

” Usaha apa ? “

” Aku akan buka bengkel.”

” Boleh aku jualan pecal disamping bengkelmu ? “

” Tentu saja. Kenapa tidak, sayang ? “

Kedua manusia itu asik dengan cerita masa depan buatan mereka. Terbayang cinta yang makin merekah setelah hidup semakin mewah. Indah memang.

” Tapi aku lapar. “

” Sini ku peluk. Kita tidur saling berhimpit saja. Biar tak lapar. “


****


Apa lacur kalau kata telah sesumbar tercelat dari mulut yang sedang khilaf ? Maka kedua manusia itu hanya duduk berjauhan.

” Aku cuma tidak mau kau terlihat kotor dengan berlepotan oli nantinya. Cari lah usaha lain, biar aku saja yang jualan pecal disana.”

” Lalu akan ada segerombolan lelaki genit yang mengendus - endus tengkukmu saat kau sedang memunggungi mereka menyiapkan pecal murahan itu ! “

” Kau tak percaya padaku ? “

” Aku percaya padamu. Aku hanya tak percaya pada lelaki - lelaki yang akan jadi pelangganmu ! Lagi pula, aku tak mau mencium aroma bawang dari tubuhmu saat malam.”

” Jadi kita mau usaha apa ? “

” Mendekatlah kemari, sayang. Kubisikkan sesuatu. “

Perempuan muda itu menurut saja. Pertengkaran mereka usai sampai disini. Terbaring berdua setelah perdebatan panjang adalah hal paling romantis.


****


Pemilik rumah kos itu sepanjang hari di tanyai polisi. Kenapa sepasang kekasih itu bisa mati. Yang ditanyai diam saja, jelas tak mengerti.

Begitu pun tetangga lainnya. Setahu mereka pasangan ini bagai Radit dan Jani. Selalu akur, seirama dalam tingkah.


****


” Kita harus seperti Radit dan Jani, bodoh ! Tak ada yang mampu memisahkan kita. “

” Kau membunuhku ? Kau bilang mencintaiku… “

” Aku tidak membunuhmu. Aku hanya tak ingin membiarkan mu dinikmati laki - laki lain, sayang. Kita akan selalu bersama. “

Jelas saja tak ada orang tau, perdebatan tentang pecal dan oli mampu memancing setan malam itu yang menyelinap dalam bentuk pisau dibalik jaket si lelaki.





****

Ide cerita ini, sebelumnya pernah saya baca disebuah majalah. Tapi, lupa kapan dan majalah apa. 

Read more...

Kamis, 03 Juni 2010

Kata orang ini dosa. Aku bilang ini Cinta

Siang ini kukumpulkan semua barang - barang Yanti yang kuanggap bisa meretakkan hubungan kami. Gaun biru muda pemberian Dimas, Gelang giok kado Dimas di Ulang Tahun Yanti yang ke dua puluh tiga. Yanti bilang itu bagus, bisa keluar sinar kalau di malam gelap. Buatku itu jelek karena aku tak suka pada pemberinya. Belakangan ini mereka mulai terlihat mesra. Bahkan sangat mesra. Pulang dan berangkat kerja selalu bersama. Seperti sudah tidak ada kegiatan lain saja. Aku tidak marah pada Yanti, aku hanya tidak suka pada Dimas. Semua ini harus kubakar. Yanti marah, urusan belakang.


***


" Kau melewatkan janji makan malam kita lagi kali ini, Yan "
" Aku minta maaf, tapi kali ini Dimas benar - benar membutuhkanku. "
" Kau sudah seperti pelacur pribadinya saja. Selalu harus ada saat dia butuh ! "
" Tolong, mengertilah. ! "

Yanti memelukku, merapatkan dadanya pada punggungku. Kenyal dan hangat. Ah, bagaimana aku bisa marah jika sudah begini. Aku luluh, birahiku terangsang. Tapi harus ku tahan. Tak mau semua ini merusak kemesraan kami.


***


" Hari ini aku mungkin pulang larut. Tak usah menunggu.Tidurlah duluan "
" Pergi dengan Dimas lagi ? Kemana ? "
" Ada praktek di lab. Kau taukan, aku harus lulus tahun ini."
" Ooohh... "

Aku sedikit lega, setidaknya dia mengabaikanku bukan karena lelaki itu. Ku akui, Dimas memang tampan, matang dan sudah bekerja. Apa yang dilihat Yanti dari ku ? Aku lebih muda dua tahun darinya, tempramental, dan masih terseok - seok menjalani perkuliahan sembari bekerja sebagai pelayan paruh waktu restoran cepat saji. Semua kulakukan agar Yanti bangga padaku. Itu saja.


***


Deru motor dan silau lampu spion dihalaman depan mengusik mimpi ku yang sedang bercinta dengan Yanti. Sial, aku hampir saja orgasme ! Semua buyar karena motor brengsek itu. Kusingkap tirai, ada Yanti yang sedang dicium bibirnya. Anjiiinngg !!! Aku benar - benar tidak terima. Aku cemburu. Harus kulakukan sesuatu. Yanti terkejut begitu melihatku yang berkacak pinggang didepan pintu. Begitu pun Dimas, silelaki sialan itu. Dia melepaskan ciuman haramnya, tergagap dan terburu - buru pulang tanpa pamit padaku. Dasar setengah banci.!


***


" Kau memalukan, Yanti ! Kau anggap apa aku. Hah ??!! "
" Maaf... Aku tak bermaksud.. "
" Kalau kau ingin menjaga perasaan ku, bukan begini caranya. Kita sudah empat tahun tinggal bersama.    Tetap saja kau menganggapku seperti kacungmu ! "
" Bukan begitu, percaya padaku. Aku tidak bermaksud merendahkanmu. Aku mencintainya, itu saja. Mengertilah. "

Ini perang pagi di awal musim yang cukup cerah. Ah, andai saja Yanti tak kembali memelukku. Aku pasti sudah menikamnya dengan pisau pengupas appel ini. Lagi - lagi aku luruh. Ku akui, aku sangat menyukainya, bukan, bukan hanya suka. Aku mengaguminya, lebih dari itu, aku mencintainya. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia sepupuku, tidak begitu cantik namun mempesona, anggun dan dan sederhana. Tipikal wanita keibuan seperti yang aku dambakan.


***


" Kau lihat gaun yang baruku ? "
" Sudah kubakar kemarin siang ! "
" Kenapa ? Kau tau itu dari Dimas kan ? "
" Kau tidak pantas memakainya. Lagi pula dia lelaki brengsek ! "
" Kau mulai membosankan. Tidak ada hak kau melarangku. Aku mencintainya ! "


Kata - kata Yanti barusan membunuhku. Apa dia bilang ? Cinta Dimas ? Apa dia tidak tau kalau aku juga sangat mencintainya ? Bahkan cintaku lebih dari cinta lelaki bangsat itu padanya !


***


Sepertinya Yanti benar - benar marah padaku. Dia memasukkan semua pakaiannya dalam tas usang yang kuingat adalah tas yang kami beli dipasar bau amis empat tahun lalu. Aku bersalah sekali, tapi aku tidak ingin lari ke lelaki itu dan meninggalkanku. Aku bisa mati tanpanya.

" Mau kemana ? "
" Bukan urusanmu. Aku muak serumah denganmu ! "
" Kau mau kemana ?! "
" Pergi dari sini..!! "
" Kau tak boleh pergi. Aku bisa mati tanpamu "
" Kau mati saja kalau kau mau ! Aku tak perduli lagi..! "


***


Yanti pergi. Tak bisa kutahan, sekuat apapun usahaku. Aku benar - benar hampa tanpanya. Cinta ku padanya begitu kuat. Tidak sekedar kata gombal seperti yang dikatakan Dimas seperti yang sering kubaca diam - diam di pesan singkatnya pada Yanti.

Tanpa kusangka, ditengah keputus asaan ku memikirkan nasib cintaku yang tak berbalas dari Yanti, sore ini dia datang. Mengambil semua sisa barang nya yang tertinggal. Aku tak mau dia pergi lagi.

Tak kusia - siakan kesempatan ini. Kupeluk dia dari belakang. Aku dekap dia, seperti tiap kali dia meredakan marahku. Kekecup pangkal lehernya. Dia berontak, semakin kueratkan pelukanku. Dia menggeliat marah, tapi bagiku dia sedang menggelinjang penuh nafsu sepertiku. Kali ini, harus kukatakan sesuatu padanya.

" Yan, jangan pergi. Aku akan melakukan apa saja agar kau mau kembali kesini lagi. Jangan tinggalkan aku! " Pintaku memelas.

Dia mengacuhkanku, " Aku akan bertunangan dengan Dimas dua minggu lagi. Dan akan menikah bulan berikutnya. Datanglah kepertunanganku nanti. "

Sial, dia benar - benar membuatku kalap. Aku kedapur, bingung. Kulihat seutas kawat bekas jemuran yang putus. Kubawa kawat kekamar. Kukaitkan keleher Yanti. Dia berontak kehabisan nafas. Lalu perlahan mulai mulai merosot dari dekapanku. Dia mati. Aku mencintaimu Yanti. Tak ada siapapun yang boleh mencintaimu selain aku. Kau lebih baik mati jika tidak bersamaku. Aku terbahak. Puas sekali. Tapi tidak lama. Tiba - tiba aku seperti gila. Aku menangis sejadi - jadinya. Meraung. Kuingat desahan Yanti sebelum mati.

" Ayu,,, apa yang kau lakukan. Aku ini sepupumu. Dan aku akan menikah "

Aku tersadar. Nama ku Ayu. Ayu Prayitna Putri Hidayat.








Read more...

Selasa, 01 Juni 2010

Pemuda - Pemuda Rapuh Penatap Masa Depan

" Buyung, kau antarlah dulu pesanan orang ni.. "
" Nanti saja lah, Mak."
" Nanti kau bilang ? Tak pernah lah kau menuruti kata Amak ni. "
" Uda Safli sajolah yang mangantakan nyo, Mak.. "

Safli yang disebut namanya mendelik.
" Tak ada mata kau menengok aku yang sedang kerja ni rupanya ya..! "

Safli tersulut emosi. Anak pembangkang tadi tetap saja acuh dan melesat menuju gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.
***
" Sudah berapa kali Ibu bilangin, kurangilah bermain dengan anak laki - laki. Tidak baik ! "
" Gak punya teman lagi, Bu. Aauuww...!!! Pelan - pelan nyisirnya. Sakit, Bu. "
" Rambut kamu ini kusut. Sama kayak otak kamu ini ! Tunggu disini, Ibu ambil minyak kemiri dulu "

Ibu anak itu beranjak kesudut meja rias. Menggapai minyak kemiri, si anak melesat dari kamar begitu lengannya lepas dari cekalan sang Ibu. Menuju gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.
***


" Bukannya saya yang ndak bisa ngurus anak, Bu. Tapi memang nakalnya yang ndak ketulungan. "
" Alaah.. Aku saja yang punya anak sebelas masih bisa sambil nyuci kain orang kok. "

Si Ibu masih mencoba mencari pembelaan diri.
" Beda, Bu. Anak ini memang ndableknya minta ampun. "
" Ndak alasan itu.! Mana anak mu itu ? Le.. dimana kamu ? Sini sama Eyang Putri.. "

Perdebatan antara menantu dan mertua itu semakin sengit saja. Bocah liar yang jadi sumber masalah muncul. Menenteng sendal Yumeida usangnya. Eyang Putri nya senyum. Sayang, senyum Eyangnya itu masih kalah pamor dengan gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


***


Kriiieeettt
Suara jendela dibuka perlahan, tubuh kurus tinggi, melongo dari jendela. Bosan dia dengan agenda tidur siang yang tidak pernah membawanya kedunia petualangan. Tak perlu meminta persetujuan Babah nya dia kabur. Menuju gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


***

" Pokoknya, kalo minggu ini kalian belum bayar utang. Cari saja meja sayur lain ! "
" Minggu ini, mudah - mudahan kami lunasi, Pak. Sungguh "
Si penagih berlalu. Tinggallah suami dan istri saling pandang kebingungan.

" Bagaimana ini, Pak ? Apa bagusnya si sulung kita berhentikan sekolah saja ? "
" Jangan !! Bagaimana pun dia harus sekolah !! Tak boleh bernasib lebih sial dari kita. Titik !! "

Sisulung yang mendengar Ayahnya dibentak si penagih, mendidih darahnya. Woy !! Ayahku baru saja kecelakaan, monyong !! Tidak lihat memangnya ? Berjalan saja masih pengkor ?!. Tentu saja hanya dalam hati, tak berani lebih keras. 

Dia harus meredakan darah anak - anaknya yang menggelegak. Harus cari tempat menyembunyikan gemetar dada yang naik turun. Menuju gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


 ***

Kapal bekas pengangkut pengungsi Vietman belasan tahun lalu itu teronggok begitu saja di tengah semak ini. Berbagai tumbuhan paku memagari sekeliling. Tak satu pun orang dewasa pernah mendatangi tempat ini. Selain menganggap tidak ada makhluk lain selain hantu yang menghuni areal ini, tempat ini juga tidak seluruhnya tembus cahaya siang.
Cukup lima anak kebal setan berusia 8 tahun saja yang menjadikan tempat ini sebagai taman bermain mereka. Bahkan puluhan kuburan tua tak terawat itu yang mereka jadikan tempat persembunyian saat bermain petak umpet. Beberapa nisan kuburan dijadikan pemukul bola kasti, bahkan alat mencolok mangga ranum jika mereka kelaparan dari aksi meloloskan diri dari rumah.

Disinilah mereka berlima selalu berkumpul. Setiap hari. Tempat mereka melarikan kecemasan, kegalauan, memamerkan kenakalan, gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.



***

" Kenapa lama sekali si Cina itu datang ? " Anak perempuan itu menggerutu.

" Tunggu sajolah sabanta lai. Baok kan tanang. " Anak pemilik warung nasi itu santai saja.

" Mungkin dia masih disuruh membeli jeruk Mandarin sama Babahnya " Anak pedagang sayur tadi berceloteh. Menghindari kesedihan hatinya, juga kesedihan Bapaknya tentu saja.
Anak satunya lagi diam saja. Dia memang bisu.
***

" Hey, kau lihat ini ! Hebat benar bukan ? Ini ikan laga terhebat yang aku punya. Lihat ! "
Si Bisu memperhatikan ikan laga teman perempuannya itu. 

" A... Aaa.. Aua.. " Sibisu meliukkan lengan kanan ke tangan kirinya. Membuat formasi tabrakan.

" Hhmmm.. Punyamu masih kalah dibanding punya ku ini ! " Anak Cina itu mencibir si Bisu.

" Banyak gaya kau, kawan ! Punyamu saja sampai putus siripnya waktu lawan punyaku kemaren. Huh..!! " Ikan laga si anak tukang sayur itu memang jago.

Dengarlah repetan anak tukang nasi Padang ini, " Hei, kau. Macam punya kau sajo nan paling hebat. Kan lah pana kalah pas tanding punya awak. ! "

Itulah kelima anak aneh yang tidak punya teman selain mereka - mereka saja. Bukan tidak mau bergabung dengan anak lain, tapi mereka terlalu sering diolok - olok anak komplek super keren lainnya. 

Bagi lima anak ini, kesalahan terbesar adalah saat orang tua mereka harus membangun rumah liar bertriplek di belakang tembok Perumahan elite ini. Maka, tak ada tempat buat mereka selain gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


***

" Kenapa harus ambil FKIP? Kau kan jago Kimia waktu sekolah dulu ? " Si anak pemilik warung nasi bertanya keheranan.

" Aku mau jadi guru. Biar kalau sukses nanti buka sekolah sendiri. Ngasih beasiswa buat anak miskin kayak kita ini." Jauh sekali cita - cita anak tukang sayur itu.

" Tapi kan anak miskin kayak kita ini segudang. Lah mau makan apa kau nanti, kalo semua murid digratisin." Sambil mencelupkan tangannya ke kolam bau amis, dia bertanya.

" Kan masih ada anak kaya yang otaknya tumpul. Tinggal peras saja orang tua untuk les - les ini - itu. Toh orang tuanya tidak perduli kok.! Yang penting anak nya pintar, terus di bayar.Ya kan ? " Kira - kira begitulah arti perkataan si bisu. Bertahun - tahun berteman sejak kecil, sudah paham mereka semua maksud bicara sibisu itu.

" Kau benar, bisu ! Orang kaya kebanyakan cuma cari uang. Anaknya bodoh - bodoh." Tentu saja anak Cina ini asal bicara berdasarkan otak miringnya kebanyakan menelan asap dupa.



***

" Hah ?? Akuntansi ?? " Serempak ketiga temannya berteriak kaget campur bingung.

" Kau gila ? Kau kan bodoh sekali Akuntansi ! " Itulah arti bahasa tubuh si bisu

" Mau apa lagi ? Kata ayahku, tidak ada guna nya itu wartawan. Lagi pula, Ayahku yang kolot itu memaksaku jadi dokter saja. Mana aku mau! Ayahku keras kepala. Dan aku menurunin wataknya. Kalau aku tak diizinkan jadi Wartawan, aku pun tak ingin jadi dokter.!! Dia pikir bisa menyetir hidupku. ? Dia lupa aku ini titisan Setan pengungsi Vietnam.." Tersenyum puas si perempuan.

Mereka tertawa berpelukan. Menatap langit, meminta restu akan nasib baik dimasa mendatang. Lagit itu tidak akan berhianat. Ini masih langit yang sama, langit yang menaungi gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.


***

" Aku ingin tetap meneruskan usaha warung nasi Padang Ibuku. Setidaknya, dengan modal jadi babu pencuci piring di hotel itu aku bisa kolaborasi nasi Padang dan makanan Prancis, sesuka ku. "

" Walaupun aku tidak jadi wartawan, siapa tau saja nanti aku akan bekerja sebagai Akuntan diperusahaan  koran ternama. Berjumpa banyak wartawan. Mulai dari sekarang aku harus mati - matian mempelajari Jurnal - jurnal itu. "

" Aku akan menjadi guru yang baik. Menjadi pendidik yang lurus. Walaupun nanti niatku membuka yayasan tidak tercapai, setidaknya aku bisa memujuk para pemberi dana menyekolahkan anak miskin seperti kita. "

" Aku akan menjadi supir angkot. Cuma itu pekerjaan yang tidak perlu banyak bicara, kurasa. Lagi pula, aku jago membawa mobil. Dan tidak ada larangan orang bisu untuk membuat SIM. Tabungan dari hasil jadi kuli angkut terminal sudah mulai banyak "

" Aku akan mengizinkan kalian untuk mengutang ditokoku nantinya. Aku akan sekolah bisnis. Lalu membuka toko dari hasil keringatku jadi pengajar sempoa "

" Dan kita akan jadi orang besar...!!! "

Sore mulai menampakkan Jingga nya. Lima remaja tanggung duduk bersisian ditepi pembatas jalan yang lengang. Menatap laut lepas dengan hiasan kapal diujung sana.

Langit cerah bermandikan awan, kontras dengan langit biru yang mulai mengalah pada Jingga senja. Yang mulai berarak membawa impian mereka kelangit ketujuh, melewati awan, menderu laju menuju pintu langit. Untuk kemudian berhenti didepan Singgasana Tuhan, bersipuh memohon kemurahan hati Sang Penguasa, mengabulkan mimpi masa depan mereka.

Kelima remaja tanggung itu masih tetap bersama, setidaknya pada hari ini. Mereka sudah punya cita - cita dan sedang tunggang  - langgang mewujudkannya. Itulah yang membuat mereka sedikit layak disebut manusia , hanya karena secuil harapan masa depan. Sedikit rapuh memandangi perjalana cita dan asa mereka. Mereka tidak akan salah langkah. Mereka punya hati yang menuntun dan membedakan mereka dengan yang lainnya. Hati yang tumbuh dibesarkan gardu usang bekas rumah sakit pengungsian Vietnam di tengah semak.

Read more...