Pages

Selasa, 20 Juli 2010

Tak ada Cinta Yang Salah.

Aku dan tunangan ku itu sudah sepakat. Rahasia akan tetap jadi rahasia dan wajib dipegang teguh, tak masalah jika terbongkar belakangan. Setidaknya saat ini masih aman - aman saja.

” Kau bebas berkencan dengan siapapun, Josh.”
” Ikatan kita hanya sekedar simbol. Cinta itu segalanya daripada sekedar basa - basi palsu. “

Kami sepakat.


*****


Aku sudah duduk didepan kekasihku ini, dia selalu menarik perhatianku. Rambutnya yang sedikit di biarkan panjang lebih cocok dengan tipe wajahnya yang agak tirus. Rahangnya, Ya Ampun, itu yang membuat hatiku selalu ketar - ketir tiap kali melihatnya.

” Masakan mbak selalu bikin inget rumah.”
” Makan sepuas kamu aja, sayang.”

Aku tak sabar menungguinya sampai dia selesai makan, kulangkahkan kakiku untuk menyentuh pundaknya. Pundaknya bidang. Ternyata sentuhan saja tak membuat kekasihku itu berpaling dari makannya. Mungkin dia terlalu lapar, ku coba cara lain. Berhasil, dia melumatku habis semalaman penuh !


*****


” Kalau boleh tau, siapa nama pacar mu itu, Ros ?”
Aku tersenyum, ” Kenapa ? Kamu cemburu? “
Dia tertawa, sumbang dan menyakitkan. ” Aku cuma heran, umur kalian beda jauh.”

Aku diam saja, tak ada gunanya menjawab pertanyaan bodoh seperti itu. Buatku, cinta berjalan diatas semuanya. Tak ada masalah dengan umur. Apa salah jika mencintai lelaki yang lebih muda?
Dasar manusia picik, kalau saja tak ingin melanggar janji, sudah kuludahi wajahnya.


*****


Sore ini aku agak lelah, menyiapkan semua tetek - bengek urusan pernikahan itu merepotkan ! Agak malam aku sampai dirumah.

Darahku mendidih melihat kamar tidur ku dipakai untuk bercinta.

” Kita sudah sepakat semuanya cuma simbol.”
” Bukan itu masalahnya, aku capek ! Dan kamu  senang - senang bercinta dirumahku !!! “

Kali ini habis kesabaranku. Kulihat dia sedikit menyesal. Kurebahkan kepalaku di sandaran sofa. Aku hampir terpejam saat lelaki itu menawarkanku teh.


*****


Ini sore mendung yang kami habiskan duduk berdua di bangku taman kota. Aku dan Kekasihku.

” Semua bakalan berubah. Mbak nikah sebentar lagi.”
” Gak ada yang berubah, sama saja. Dia tak akan keberatan.”

Kurangkul dia, kukecup bibirnya, dia membalas tanpa perlawanan. Aku harus meyakinkan bahwa semua pasti baik - baik saja.

” Ulang Tahun mbak tiga hari lagi, mau aku kasih apa? “
” Cinta.”

Dia menatapku tajam, dibangku taman yang sepi ini kami berpagutan lagi.


*****


Hari ini, Ulang Tahun ku, dua puluh lima tahun. Hanya ada aku, lelaki itu dan pacar gay nya yang dia bilang dicintainya setengah mati. Kekasih ku belum datang.

Kami masih duduk saling berhadapan, memandangi makanan dan lilin yang meliuk - liuk hampir padam diatas meja terhembus udara dingin ruangan. Sebelum kekasihku datang, tak akan ada makan malam hari ini.

” Mungkin dia tak datang, Ros.”
” Dia pasti datang, Josh. Ini Ulang Tahun ku.”

Tak lama, datang sesosok tubuh yang ku tahu itu kekasihku. Benar kataku, dia pasti datang.


****


Malam ini aku bahagia, bagaimana tidak, lelaki congkak tadi berhasil ku buat melongo mulutnya. Dia pasti sakit hati melihat kekasihku itu. Bagaimana tidak, kekasihku itu jauh lebih tampan dari dia. Ya, selama ini ketampanan itu yang selalu dibanggakannya.

Aku yang sempat di celanya, mampu memacari orang yang lebih tampan. Meski lebih muda, tapi dia jauh lebih dewasa dan sempurna. Itulah kenapa aku mencintainya.

Seperti malam ini, aku dan kekasihku tergeletak bersimbah peluh diranjang kamar ku. Lelah bercinta membuatnya pulas tertidur.

Kupandangi wajahnya. Tampan. Kukecup keningnya, kubisikkan sesuatu di telinga nya.
” Aku cinta kamu, sayang. Aku nggak perduli meski kamu masih 15 tahun.”

0 komentar:

Posting Komentar