Pages

Selasa, 04 Oktober 2011

Ternyata Oh ternyata...

Maaf buat mahasiswa/i atau Alumni Universitas di manapun berada. Baik yang sudah lulus/yang sedang kuliah, khususnya di Universitas atau STMIK Putera Batam, jika akhirnya anda menemukan fakta yang tak terbantahkan ini. 
Cuma buat becandaan sebenernya tapi kalopun kebeneran bener-bener bener, ya gak usah marah terus ngeshare ke mana-mana trus ngumpulin massa se-Tanah Air, trus tanda tangan di spanduk segede Kingkong buat nutup ini blog. 
Mending kita ketemuan aja, diomongin baik-baik, cari solusinya gimana, kalopun akhirnya kita saling suka dan pacaran, dan ternyata kita juga ada Jodoh, ya mau gimana lagi? *Tetep #Ujung-ujungnyaKawin


Setelah kuliah bertahun-tahun menghabiskan waktu ngilmu di  satu tempat yang bernama Kampus, baru saya sadari bahwa:

1. Ternyata selama ini pandangan saya akan diri sendiri yang salah mengambil jurusan, adalah salah besar.
Kenapa? Bukan apa-apa sik. Saya cuma merasa tertekan akan mata kuliah Akuntansi yang mengakibatkan IP jeblok di atas semester 3 sampe semester yang entah udah keberapa. Huahahaha
Saya bukan salah jurusan tapi emang otaknya yang pas-pasan. Kalopun pada akhirnya saya kuliah di Tekhnik belum tentu IP tinggi dan bermasadepan cerah.
Akhirnya dengan ini saya mensugesti diri sendiri bahwa saya SAMA SEKALI tidak salah 'jurusan'. Saya cuma BELUM MENEMUKAN 'tujuan yang tepat'. #MenstimulasiOtakSendiri
Okey, ini lagi ngomongin diri sendiri dulu yak.

2. Mahasiswa pada umumnya suka nongkrong di kantin sama geng-nya yang itu-itu aja. Ngerumpiin dosen, ngata-ngatai dosen killer kalo dikasih nilai D, rajin mampir ke tempat fotokopian sehari sebelum ujian #Eeeaa, suka sms teman buat nitip absen, ngantuk di kelas adalah lumrah.

3. Merasa bersemangat tiap awal semester ganjil karena bisa ngecengin dan tebar pesona ke mahasiswa baru yang, ehm, bisa dijadikan target cem-ceman. >.<  *Berondong detected 

4. Merasa sangat malas kuliah kalo dapet jadwal agak siangan.

5. Belajar serius hanya H-2 ato H-1 sebelum ujian. Kalo belajar tiap hari, berati DEWA ato emang niat banget lulus cepat-cepat dan jadiin foto wisuda jadi PP di FB. 

6. Bagi sebagian mahasiswa 'pinter', IP diatas 3.5 adalah gerbang meraih beasiswa dan berbondong-bondong ngantri di BAAK untuk minta surat keterangan kuliah dan getol minta ampun ke kelurahan buat ngurus SK Tidak mampu demi beasiswa bagi Mahasiswa MISKIN yang 'PANDAI'. Padahal setelah dapet beasiswa untuk 2 semester, langsung ganti HP keluaran terbaru dan pamer sana-sini. Huahahahaha. 
Ini realita di kampus saya. Bagaimana dengan di kampus kamu??

7. Perpustakaan cuman dikunjungi kalo lagi kepepet tugas makalah setelah gak kebagian komputer dengan layanan internet gratis.

8. Suka tiba-tiba galau kalo ditanyain IP semester lalu, suka ngerasa kalo waktu bergerak lambat banget di jam-jam kuliah dan berbanding terbalik kalo lagi kuis ato kalo lagi ujian.  

9. Mahasiswa yang berprestasi biasanya ngejelasin dengan suara kuenceng banget ketemannya yang nanya, biar satu kelas tau kalo dia emang pinter beneran dan beasiswanya bukan hasil dari surat MISKIN PALSU.

10. Jarang Demo karena memang gak ada yang mau di demoin dan karena gak punya waktu buat demo.
Karena Waktu adalah Uang atau Waktu adalah Istirahat.

11. Suka ngeluh dan ngebanding-bandingin kampusnya sama kampus lain. 

12. Rajin melototin mading biar gak kelupaan jadwal bayar kuliah dan kuliah pengganti.

13. Mahasiswa yang jarang nongkrong biasanya mahasiswa yang sibuk kerja sehabis jam kuliah.
* Dan menurut saya, sibuk bekerja meski IP berantakan jauh lebih MULIA ketimbang mahasiswa ber IP tinggi  tapi menyalahgunakan beasiswa KURANG MAMPU buat hura-hura! 

Masih banyak keburukan-keburukan mahasiswa lainnya yang mungkin kita tau tapi gak berani ngungkapinnya karena satu atau lain hal (jiah..)
MAU BERBAGI??
Read more...

Selasa, 06 September 2011

(Re-Post) Paman Kita Yang Menjadi Tokoh Mimpi Buruk

Gambar diunduh dari pencarian Google

Dear Afrizal,
Bersama surat ini kukabarkan bahwa aku baik-baik saja dan hendaknya begitu juga denganmu di sana.

Sebagaimana layaknya surat, maka semua akan berisi kata-kata saja. Mungkin ada sesisip rindu yang kuwakilkan lewat kecup yang tak nyata. Karena begitulah layaknya surat, penuh dengan kata-mulai dari kata manis basa-basi, kata sapaan palsu, hingga kata cinta yang gombal-tapi tetap saja aku tak bosannya mengirimimu kata-kata. Kupikir memang begitulah hakikatnya manusia, siapa yang ingin disapa, harus menyapa, bukan?


Afrizal tercinta,
Beberapa malam belakangan ini aku tidak bisa tidur sebab dibayangi mimpi seram yang begitu nyata. Entahlah. Sekarangpun aku susah membedakan apakah mimpi yang terasa nyata atau kenyataan yang mirip mimpi. Aku merasa tak jauh berbeda serupa Nancy yang akan dibunuh oleh Freedy Krauger dalam A Nighmare on Elm street. Aku takut kalau mimpi yang kualami menjadi betul terjadi, Zal.


Afrizal pujaan hatiku, Afrizal yang kucinta, apa kamu masih ingat tentang mimpiku yang kuceritakan dulu? Iya! Tentang Paman Ali itu. Selalu saja dia menjadi tokoh mimpi burukku. Tak pernah bisa kuenyahkan atau kugantikan dia dengan tokoh jahat lainnya, Zal. Agaknya, dialah Raja dari Diraja tertinggi pemegang kekuasaan yang mengatur segala peran tokoh mimpi buruk, yang punya wewenang membagi tugas para tokoh mimpi buruk untuk menghampiri si pemimpi yang telah dia tentukan. Ngeri bukan main, Zal.


Afrizal kekasihku,
Malam itu aku bermimpi tengah mencari siput di bibir muara belakang rumahku.
Angin sore yang berhembus dari tengah laut membawa aroma bacin tubuh nelayan di kejauhan. Daun-daun pokok kelapa bergoyang ke kiri-ke kanan menurut perintah angin. Anak-anak kepiting berlarian tak tahan ditimpa sinar matahari sore yang menyengat, kocar-kacir kepiting-kepiting itu menyurukkan tubuhnya kedalam pasir pantai yang berkilauan, mencari perlindungan. Kadang kepiting itu sempoyongan menabrak akar-akar kelapa yang menjulur keluar dari tanah.

Lalu pada satu malam purnama dengan awan berarak di langit, tiba-tiba tiang-tiang rumah papan kami berderak-derak dihantam gelombang laut yang pasang. Tak sampai menunggu pagi, rumah-rumah kami, perahu-perahu kami, jala-jala yang belum selesai kami jahit, semua kelihatan bersih disapu gelombang pasang. Tangis jerit anak yang bapaknya tak selamat di tengah laut bedengking memekkan telinga.

Esok harinya, Paman Ali datang dengan mobil mewah lengkap dengan safari necis mengolok-olok kami.
“Kalau tak ingin terkena badai, jangan berumah di tepi pantai”
Bah! Perkataan apa pula itu! Padahal dalam mimpiku, Paman Ali itu tetua kampung yang harusnya mewakili kami dalam segala suka duka.


Afrizal cahaya hidupku, jantung hatiku, apa kamu masih tetap melanjutkan membaca surat dariku ini? Kalau datang jemumu, baik hentikan barang sebentar.

Mimpi terakhirku-yang kupikir lanjutan dari mimpi pertamaku tentang Paman Ali yang menjadi tokoh Antagonis-tentang pencurian di gudang ikan milik nelayan.
Gudang itu satu-satunya tempat hasil tangkapan nelayan disimpan, agar kalau nanti datang tauke dari kota, bolehlah menjual ikan barang sepeti-dua peti. Layaknya kebanyakan tempat penyimpanan, ditugaskanlah penjaga-penjaga yang kekar, tahan bertanggang mata semalaman, lihai melihat dalam kegelapan, dan tentu saja orang yang berilmu lagi terpercaya.

Seperti biasa, di awal minggu para tauke dari kota datang membeli ikan. Setelah timbang sana-timbang sini, sepakat dengan harga tawaran, dinaikkanlah ikan-ikan ke atas truk yang besarnya tak terkira.
Mirip-mirip tak ada yang salah, semua berjalan sesuai rencana. Lama-kelamaan, jumlah tangkapan nelayan yang disimpan di gudang berkurang kilo demi kilo. Tauke bersikukuh kalau timbangannya masih dalam masa kalibrasi yang belum kadaluwarsa, begitu juga nelayan-nelayan miskin yang terlatih menakar berat jarang salah.

Saling tak percaya mulai jadi pemandangan biasa saban awal minggu. Penjaga-penjaga gudang bersih tak terlibat sengketa.
Hingga satu malam, seorang nelayan yang baru saja pulang melaut di malam hari menyaksikan penghianatan penjaga gudang yang tengah mengeruk isi peti. Menjejalkan ikan, kepiting, cumi, hingga teripang dalam plastik. Menjual pada penadah, lembar demi lembar rupiah. Penjaga gudang tak lagi dipercaya, mereka lari tak tentu rimba. Berita menjadi santer.

Esok harinya, Paman Ali datang dengan bergaya, berbicara di atas podium.
“Harap kita bisa memaafkan mereka, saudara-saudara kita yang khilaf itu.”
Huh! Paman Ali bilang mereka saudara kami! Saudara mana yang tega mencuri hak saudaranya sendiri, Afrizal!
Nelayan miskin yang kemalingan kehilangan tokoh tetua kampung sekaligus sosok panutan.
“Keparat kau Paman Ali!”
Wong Edan! Pateni wae!”
Nenek tua yang anak dan cucunya mati ditelan badai, menangis sesenggukan.
Dak punya hati engkau menengok budak-budak yatim yang dah tak cukup makan ni, Ali?”
Dak tau untung engkau, Ali!”

Nelayan yang biasanya ramah dan lembut hati merasa terhianati tapi tak bisa berbuat banyak. Paman Ali berlalu begitu saja. Masuk ke mobil mewahnya. Sama sekali tak mendengar jerit tangis kekecewaan nelayan kampung kami, Afrizal.


Afrizal sayangku,
Begitulah mimipiku yang terasa begitu nyata. Aku menjadi takut pada Paman Ali. Aku takut satu hari nanti tak ada lagi yang percaya pada sosok pemimpin panutan, meski sosok itu benar-benar ada sekalipun. Aku takut anak-anak kita menjadi terbiasa dengan segala carut marut kampung kita, Afrizal.
Afrizal kekasihku yang selalu kupuja dan kucintai, doakan semua menjadi baik. Dengan ini kusudahi suratku padamu nun di perantauan sana, dengan peluk dan cium untukmu selalu.

________________
catatan sikil: ditulis pertama kali untuk Kompasiana.
Read more...

Selasa, 09 Agustus 2011

(Re-Post) Jawaban Untuk Kekasih Lewat Surat Cinta Yang Kompleks

Gambar diunggah dari Google.com
Dear Zein,
Bersama surat yang kukurimkan ini, kusisipkan rindu dalam pekat malam yang makin malam. Kamu apa kabar? Semoga setelah tak lagi mengepalai proyek pertambangan milik kapitalis ternama itu, kesehatanmu makin baik-baik saja.

Dua bulan lalu kamu bilang, kalau kamu semakin sibuk membenahi segala urusan pekerjaan barumu, mungkin karena itulah, pesan yang kutinggalkan di ruang kotak virtual berkali-kali lalu tak juga kamu balas. Tak mengapa.

Aku ingat janji terakhirmu sebelum kita berpisah, kamu juga bilang, kamu tidak akan selingkuh tanpa setahuku. Aku tertawa antara bangga dan bahagia. Kadang aku heran sendiri bagaimana aku bisa tahan sekian lama denganmu yang begitu tak tertebak dan hidup terlalu teratur.


Zein sayang,
Seperti apa kamu sekarang? Apa kamu rutin mencukur bulu-bulu halus di dagumu? Dua hari lalu, saat gerah hampir di setiap malam belakangan ini, aku membayangkan liburan pagi kita yang indah. Berbelanja, memasak, sekedar meminum teh di sore hari atau menonton opera yang sudah lama kita rencanakan.

Bagaimana cuaca di kotamu sekarang, kamu masih di Vienna bukan? Sesekali aku ingin ikut denganmu, berpindah dari satu kota besar ke kota besar lainnya. Merasakan makanannya, berlibur di atas perahu-perahu mengarungi sungai yang mengalir di bawah jembatan tua yang kokoh, atau memberi makan burung-burung dara di taman kota Amsterdam yang bersalju.

Bulan-bulan lalu aku menerima kabar lewat surat elektronik dari teman tentang musim badai salju dan hujan es yang mampu meretakkan kaca-kaca mobil. Aku cemas sekali ketika itu, pasti kamu tengah meringkuk kedinginan di depan perapian apartemen yang dingin di Dubai.

Kudesak kamu agar menyalakan penghangat ruangan dan memakai alat pemanas di bawah kasurmu tiap kali ingin tidur. Kamu bilang aku tak perlu cemas karena semua baik-baik saja. Gampang sekali kamu bicara, My Dear. Bagaimana bisa aku tak cemas kalau aku tak yakin kamu baik-baik saja?


Zein,
Sudah lama sekali aku mendamba kita punya waktu barang sebentar untuk sekedar mengobrol. Tentang kamu. Tentang masa depan cinta kita. Tentang banyak hal.
Aku ingin mendengar kisah remajamu saat masih di Nigeria. Apa kau pernah mengencani gadis-gadis yang menaiki punggung-punggung unta yang ditarik dengan tali saat mereka menyeberangi Gurun Sahara menuju Burkuni?

Apa kau pernah jatuh cinta pada gadis pengembara Samia yang doyan meminum susu dan berhidung mancung itu?
Sumpah demi apapun aku tak dibakar cemburu. Setiap kita punya masa lalu, Zein.


Zein pujaanku,
Tiga hari lalu aku menghadiri pernikahan Erick dan Risa. Mereka mengirimiku tiket, memaksaku datang. Pestanya sederhana, hanya di apartemen di pinggiran Utrech.

Belakangan aku tahu, Erick begitu kangen pada negeri kita. Kami bercerita hingga larut di balkon apartemennya, dia rindu kampung halamannya di pesisir Sumatera sana. Erick bilang, dia sudah lama tak mencium aroma tanah kering di sini.

Risa, dia sudah lama tak mendengar Indonesia Raya seperti dulu masih di kotanya, Dili. hingga hampir fajar kami masih di balkon dengan mantel tebal yang menempel. Sambil mengusap air mata sesekali, Risa menceritakan luka dan perihnya saat bertahun-tahun melihat ibunya hampir gila menunggu saudara lelakinya yang tak pernah pulang setelah dibawa beberapa orang berseragam. Indisiden di Dili masih melekat dan menyisakan ketakutan, kelebat orang-orang ramai menenteng golok dan kelewang masih menyisakan trauma untuk Risa.

Aku miris melihat mereka, Zein. Erick dan Risa itu. Punya tanah air tapi harus mencari penghidupan yang layak di negeri orang. Malam itu kami saling mengenangkan malam-malam purnama yang cahayanya menembus reranting pohon rambutan di desa, masa kanak-kanak kami yang keras, kecipak air sungai yang memercik di wajah. Semuanya, sebelum segala carut marut menjadi biasa. Malam itu di tengah hujan salju yang mulai menjelma badai, kami kenangkan kembali kenangan-kenangan tentang negeri yang kami rindu.


Zein,
Kamu pernah bertanya beberapa kali padaku tentang cinta. Apa kamu percaya kalau aku bilang, aku masih tak mampu menjawab, bahkan hingga sekarang? Cinta bukan sekedar rasa yang hadir dari hati dan berbiak sampai ke jiwa. Bukan.

Cinta lebih kompleks dari sekedar ungkapan sajak picisan yang kerap kamu baca di buku-buku roman mahal koleksimu. Cinta juga tak harus diumbar. Cinta harusnya menjadi mantra yang gelap dalam alam bawah sadar kita yang jujur. Cinta bukan sekedar kita bahagia karena bisa hidup bersama. Karena bahagia bisa saja kita buat-buat. Toh, bahagia hanya permainan olah pikir masing-masing kita.

Itulah kenapa aku tak pernah bisa meyakinkan cintaku padamu seberapa besar dan seberapa lama aku akan bertahan untuk terus mencintaimu. Cintaku padamu tak bisa kuutarakan, aku terlalu gugup untuk bisa menjelaskan. Semuanya. Semua yang kau tanyakan tentang cinta padaku. Tak mengapalah sesekali kita menjadi pengecut.


Zein,
Baik kita sudahi saja perdebatan kita tentang cinta dalam definisiku yang tak pernah bisa kau mengerti. Atau kita kembalikan saja semua pada ruang dan waktu, hingga kemudian hanya akan menjadi skenario hati masing-masing kita yang tidak akan pernah terjawab. Begitulah. Meski hingga akhir jaman nanti.

Aku hanya bisa bilang, akan kamu temui jawaban tentang cintaku saat kita mulai menua menanti datangnya uban di usia kita yang renta, dan aku tetap ada di sampingmu menyajikan kopi dengan tangan bergemetar meski punggungku mulai bungkuk.

Tanganku yang menggigil akan tetap merengkuh pinggangmu yang berjalan tertatih dengan tongkat dan sendal yang kebesaran di kakimu, tetapi debar dalam hatiku tak pernah berhenti berdesir hebat tiap kali bersamamu.
Itulah saat dimana kita tak membutuhkan cinta dimaknai dengan kata, Zein. Karena dalam cinta, kita tak butuh apapun untuk tetap saling perduli.

Cinta bagiku adalah sebuah kegigihan mempertahankan rasa yang rapuh. Karena dalam hidup, cinta bukanlah sebuah komitmen yang bisa kita rencanakan akhirnya tanpa adanya kehambaran. Dan kenyataannya, bahwa dalam cinta, keraguan dan pertanyaan adalah mutlak.


Zein,
Mungkin besok aku akan berpamitan pada Erick dan Risa. Tapi pikiranku masih dijejali hal- hal aneh yang entah apa. Aku sedih, sedih sekali. Entah apa sebabnya. Aku ingin ada kamu di sini, mendekapku hangat. Sudah lama aku tak punya teman bicara, Zein.

Tapi sekarang aku harus merias wajahku. Erick, Risa juga aku akan makan malam di cafe’ yang mereka janjikan. Pasangan pengantin baru itu harusnya menghabiskan waktu mereka untuk berbulan madu, bukan? Melihat mereka, aku teringat kita. Hubungan kita.

Sepanjang jalan menuju halte, kami tak saling bicara di bawah rintik salju dan lampu-lampu kota yang tampak seperti kunang-kunang dari kejauhan. Di dalam kereta, kami mencoba berdamai dengan rasa patah hati masing-masing. Seorang pemuda menggumamkan lagu sedih yang menyayat.

Tiba-tiba, bayangmu muncul sekelebat. Menciumku. Menggamit lenganku.
Kita terbang. Tinggi.
Lalu meledak di udara. Berserak.



 ___________________
catatan sikil: Coretan ini pertama kali dipublish di Dumalana.com
Read more...

Senin, 18 Juli 2011

(Re-Post) Mungkin Tuhan Memberi Petunjuk Lewat Ayat yang Tak Sempat Dibaca

Diambil dari arunals.files.wordpress.com
Setiap Kun hanya berjodoh dengan fayakuun agar lengkap dia sebagai perkataan ajaib Tuhan, si Penguasa yang Maha Segala. Sekali waktu saat menerima orderan do'a manusia yang berjubel dalam sehari, Tuhan malas membaca kun fayakuun tadi. Sudah tau Dia siapa yang meminta. Maka jangan heran pada ucap semoga yang terlampau sering menjadi musykil.

Harusnya di dunia ini tak disekat antara baik dan buruk. Kenapa otak tak diletakkan saja di luar batok kepala agar pikiran cabul, meski hanya sekelebat,  jelas terlihat dan sebesar apa isi kepala kita yang sesungguhnya.
Hahahaha

Kalau begitu akan berlomba orang-orang melafazkan alif, ba, ta, tsa. Bar dan dentuman speaker yang menggema akan kalah dibanding  surau tempat mengeja dhomah, tanwin dan sukun lewat pengeras suara karatan tak terganti berkali musim.

Tak ada yang lebih menggelisahkan bagi perempuan rumah bordil selain tak dapat pelangan meski telah lewat larut malam. Gincu dan pupur sudah mulai luntur dengan busa penyangga dada melorot berkali-kali, tali kutang yang kendur bukan lagi menjadi prioritas utama untuk dibeli jika sudah ada beberapa lembar uang di tangan.

"Kalo sudah tak tahan menjaga selangkangmu, baik kau puasa."
Itu ucapan terkonyol yang pernah didengar Ratmi, perempuan rumah bordil itu. Demi Nabi yang selalu menyampaikan wahyu, dia bukan haus birahi. Hanya saja kalaulah dia tak melacur, siapa bersedia menanggung mulut tiga anaknya yang butuh makan sedang laki mati tak berwarisan?

"Baik kau cari riski halal, Ratmi."

Bukan dia tak percaya pada agungnya Tuhan, tapi bagaimana dia tak kecewa jika orang hanya cakap bernasehat tapi berpaling bila sudah ditadahi tangan.
Dia pun faham dosa, tau hakikat sorga-neraka, mahir membedakan baik dan buruk. Dia bukan pula berputus pengharapan pada kuasa Tuhan, hanya saja terlalu perih beban yang ditanggungnya.


Tuhan selalu baik pada setiap manusia, maka diciptakannya dua takdir mutlak tak terbantah: Takdir dapat diubah dan takdir yang tidak dapat diubah, takdir mentok kalau kata orang.
Seperti penciptaan setan yang menjadi pembangkang. Jika saja dari awal para setan sadar mereka memang sengaja   diciptakan agar  manusia bisa arif dalam hidup, maka harusnya mereka menuntut hak pengembalian nama baik.
Terlalu lama mereka pasrah dituding atas perbuatan manusia yang tak sedikitpun berasal dari bisik dan rayu setan sendiri. Setan tengah lengah tertidur pulas meredam panas luka tusuk tombak berbara api neraka sambil tersedan, saat manusia saling bunuh. Saling hujat, saling tuding, saling lempar kesalahan. Berujung pada teriakan,
"Akulah yang benar!"

Tapi tuhan memang Maha Bijaksana lagi Maha Perencanaan. Dia merancang semua agar nanti dapat dilihat siapa yang benar khusu' dalam sujud atau sekedar ruku' dalam striptease liukan tubuh yang semlohay.


Berlinang air mata perempuan rumah bordil itu saat dua anaknya terpaksa dirampas kamtib sewaktu di pertigaan lampu Merah mengguncang kerincingan tutup botol menjaja suara. Anak titipan Tuhan yang semestinya dijaga dan disusui, telah menjelma menjadi anak yang dibesarkan debu dan didewasakan didikan angin.

"Mak, kami ni dah bukan budak kecik lagi. Tak mengapalah kalo memang harus mengamen, biar mak tak perlu bergincu tengah malam."
Ibu mana  yang tak perih hatinya mendengar pinta setulus itu. Kalau boleh memilih, baik perempuan itu luka dipukuli lelaki maniak saja, bisa disembuhkan barang sehari dua hari.

"Mak, mungkin besok kita tak bertemu lagi. Kitorang nak dibawa... katmana, bang?"
Anak kedua dari perempuan rumah bordil itu mengoceh sambil mengunyah roti tawar yang diangsurkan ibunya. Sementara abang yang ditanya tak kalah sibuknya mengolesi roti dengan gula pasir, tak ada mentega, tak ada selai kacang.

Perempuan rumah bordil itu memeluk erat anak terkecil yang harusnya masih menetek sampai sekarang, ada luka di mata perempuan itu. Bukan tanpa alasan dia melacur selama ditinggal laki. Bagaimanapun pahitnya hidup selama bersama dengan anak-anaknya, si perempuan yakin dunia tetap tak akan terbalik.
Tapi apa lacur sekarang?


Karena Tuhan punya rahasia, disebutlah Dia Maha Agung. Tak ada yang luput dari pengawasan barang sedetik. Tak ada yang terlupa dari pantauannya barang sekejap meski doa tak selalu langsung terijabah. Tuhan malas mengucap kun lalu fayakuun di saat bersamaan.

Begitu pula dengan perempuan rumah bordil, lewat razia kamtib ada pesan langsung dari Penguasa. Lewat pintu yang tertutup, Dia membuka banyak jendela lain.


Perempuan rumah bordil itu kali ini bergincu dan berpupur lagi setelah absen belasan tahun lalu. Diusapnya kaca yang kian buram menguning dengan telapak kiri, tangannya bergetar saat memoles bibir yang kian keriput dengan gincu yang sempat menghiasi bibirnya bertahun silam.

Perlu beberapa kejap meratakan pupur pada wajahnya, dia sudah tak terampil kini. Ah, perempuan rumah bordil itu tertegun. Pernah dia bersumpah tak akan bercermin lagi hanya untuk berias. Dulu, dulu sekali saat anaknya meminta dia berhenti melacur.

" Mak, cepatlah. Dah datang mobil kat depan. Satu jam lagi Bang Amir wisuda."
Inilah Firman Tuhan yang tak sempat dibaca Ratmi. Takdir!


*****
catatan sikil:
kitorang: kita
katmana: dimana
budak kecik: anak kecil

Read more...

Selasa, 31 Mei 2011

(Harapan) Blackbook di tangan

Jadi, ceritanya lagi niat banget ikutan acaranya Emak Gaul yang ngadain bagi-bagi Novel Blackbook gratisan.
MySpace
Ya, yang namanya manusia kere tapi maruk doyan banget ama kata yang ada bau-bau gratisannya.


Cerita simpelnya, blog ini pas bulan January kemaren ngadain acara Kisah 50K buat ngerangsang semangat nulis bareng emak-mbak gaul lainnya. Harus diakui bahwa jaman sekarang kita yang masih muda kalah liar dan brutal untuk masalah kreatifitas dibanding mereka yang tuaan. Gak percaya? Cekidot kisahnya di sini, temans! Dan kalian akan menganga.

Well, itu cerber sayang banget mandek ditengah jalan padahal konflik lagi seru-serunya. Ibarat sinetron semilyar juta episode, udah masuk bagian di mana penonton pengen banget ngejambak dan melintir kepala tokoh antagonisnya. 


Singkatnya, ada dua pria kece dan tiga wanita cantik yang sahabatan dari jaman kuliah sampe udah pada nikah. Namanya juga sahabatan pasti lahir segala macam bentuk cinta-cintaan. Misalnya, cinta terpendam Sandra-Decky atau cinta terpendam Donny-Tasha, cinta absurd Ratna-Donny, cinta pertama Decky-Kayla, cinta bertepuk sebelah tangan Tasha-Decky dan Sandra-Decky. Ribet banget kan itu cinta? Belum lagi masalah rumah tangga tokoh Sandra sama suaminya Reza yang cemburu ke Decky karena Sandra masih nyimpen sisa cinta jaman kuliahnya yang bertepuk sebelah tangan lewat catatan pribadi di blog Sandra. Hikmah sesatnya buat kita kalo udah nikah nanti adalah berhati-hatilah dalam ngeblog.
MySpace

Tapi pinternya lagi, emak gaul yang bernama pena Winda Krisnadefa ini lihay banget ngaduk-ngaduk konflik jadi makin runyam. Itu kali yang bikin ini cerita ngegantung gak selesai. Pasti puyeng banget mikir lanjutannya. Kecuali, tanyakan pada Serena Luna si Penulis skenario Putri Yang Ditukar (?)


Eh, kalo diceritain semua malah gak asik dong. Mendingan baca aja sendiri yak.

Sebagai yang udah ngebaca duluan serial ini sampe bagian gantung, ada usul, gimana kalo akhirnya Tasha jadian ama Donny berkat usaha gigih Ratna yang jadi makcomblang tulus. Kayla yang misterius ternyata sepupu jauhnya Donny yang selalu dirahasiakan dan udah cerai karena KDRT dan balikan lagi ke Decky atas usaha Donny dan Sandra. Sandra akhirnya bisa cinta sepenuhnya ke Reza tanpa bawa-bawa perasaan lama. Mereka akhirnya hidup bahagia. Ever after.


Sebagai pembaca yang udah sering mantengin tulisan emak satu di Kompasiana, kalau mau jujur, gaya nulis kali ini agak-agak kurang ‘Winda Krisnadefa’ banget. Kelihatan ada beberapa bagian yang make istilah remaja masa kini yang agak menggangu. Totally, gak banyak masalah sih.

Yang paling salut, mbak Winda ini peka banget ama kejadian sosial di sekelilingnya yang disembunyiin lewat tulisan. Misalnya tentang pentingnya nyimpen rahasia dari anak balita meski mungkin si anak gak bakal ngerti. Tentang perangai kaum sosialita masa kini yang doyan bawa nama Tuhan sambil minum-minum (ini tamparan banget buat kita). Tentang pentingnya Tas dengan segala model dan merk ternama buat perempuan, dan masiiiihhh banyak lagi. Baca sendiri aja mendingan yak..


Sebenarnya, masih panjang yang mau diceritain. Masalahnya, tugas kali ini cuman dibatasin 500 karakter. Mau ngoceh lama malah tersandung keterbatasan kata. 
MySpace

FYI, emak gaul ini hebat banget. Nerbitin empat buku selang waktu dua bulan. Dan bukunya yang mau dibagiin ini masuk Best Seller di Leutika. Keren kan?!! Jaminan mutu pokoknya.
MySpace
Read more...

Senin, 30 Mei 2011

Sensasi Media Menulis


Dulu sekali saat masih usia sekolah Menengah Pertama, saya dan teman-teman keranjingan menulis kisah harian di satu buku, Diary. Menurut saya, menulis Diary itu melahirkan sensasi tersendiri. Apa saja ditulis. Kisah dimarah orang tua, disetrap guru, berantem dengan sahabat, sampai ke  jumpa pandangan pertama si gebetan (Well, anak SMP udah ada loh yag cinta-cintaan). Ha ha ha !
MySpace


Sekarang, entah karena sudah ada media on line yang lebih menggoda, Diary mulai kehilangan pamor. Perlahan-lahan, orang mulai suka menulis di media virtual yang gratis. Saya ingat sekali, waktu di mana teman-teman saya di penghujung SMA mulai pamer sana-sini blog mereka. Asik mendesain template sesuai selera, memilih font dan pajang poto-poto. Awalnya saya masih kurang tertarik. Alasannya klise, sibuk. Saya mungkin pongah sekali pakai alasan sibuk. Padahal karena belum tergiur dan masih sayang si Mumu, sang Diary.


Yang paling saya ingat adalah saat pertama kali menginjak bangku kuliah, ada poster yang gedenya amit-amit terpampang di mading. Workshop tentang manfaat memiliki blog dan kompetisi blogger antar kampus. Workshop saya ikut, kompetisi? Karena belum punya blog, saya cukup jadi asisten teman mendesain template blognya biar jadi makin bagus. Saya masih belum terlalu tertarik dengan blog, ‘apaan sik? Ribet amat cuman ngurusin begituan doang’.
 

Di TV, dari pagi sampai malam, selama hampir semingguan berita tentang blog dan blogger marak, kalau gak salah di 2007. Saat yang sama juga dengan kehebohan teman di kampus. Mulai dari lahirnya komunitas blogger di berapa daerah di Ibukota, sampai mbak-mbak Artis yang juga ikutan punya blog. Artis yang paling menonjol waktu itu, mbak Sarah Azhari. WoW!! Mbak Sarah yang seksi dan artis yang notabene sibuk syuting sana-sini jadi blogger!


Pelan-pelan saya mulai tertarik ngeblog. Kemungkinan besar sih karena pengaruh mbak Artis. Jangan ketawa dulu, biasa juga kan Remaja tergiur ama segala bentuk yang bermerk Artis. Saya juga remaja waktu itu.

Akhirnya, saya punya blog. Bukan cuma satu, tiga sekaligus (Ngegaya dikit boleh dong). Entah apa isinya saya pokoknya tulis wae lah. Kadang, kalau saya baca-baca, ketawa sendiri. Childish minta ampun. Isinya gak lebih dari derita curhat menye-menye.


Sekarang, blog yang saya utamain cuma satu. Songong banget kayaknya punya tiga blog tapi dianggurin melulu. Dua lagi, saya kubur. Saya matiin. Koit deh itu blog dua.
MySpace

Kalau dulu alasan saya menunda punya blog karena sibuk. Sekarang alasan saya jarang up date blog karena malas. Kegiatan harian benar-benar menyita waktu. Cari ilmu, sosalisasi sana-sini (sosialisasi = main), gaul di jejaring sosial segala macam, semuanya benar-benar nguras waktu dan pikiran. Akibatnya, pas udah mau nulis, malas aja bawaannya. Padahal, idenya dan konsep tulisan (Jiah) udah ada di ujung otak.


Kalau diibaratkan anak, saya ini anak durhaka yang jarang banget merhatiin ortu.
Kalau diibaratkan sholat, kegiatan nulis blog udah kayak Sholat Idul Fitri yang cuma sekali setahun.
Kalau diibaratkan rumah, blog ini udah kayak rumah seram yang kotor banget karena jarang dibersihkan.
Saya buka contoh blogger baik. 

MySpace


Tapi coba kita berkaca pada pada Raditya Dika, Richard Miles si warga Adelaide, Alit Susanto. Keberhasilan mereka diawalin dari keisengan mereka ngeblog! Gak tanggung-tanggung, segala luar kota dan luar negeri dijalanin secara gratis dari hasil ngeblog. Okey, mungkin gak murni dari hasil ngeblog. Mungkin mereka keliling beberapa negara dari penjualan buku dan workshop penulisan. Tapi kan tetap aja hitungannya dari hasil ngeblog.


Secara sistematisnya, sebut saja Kambing Jantan-nya Raditya Dika, Bule Juga Manusia-nya Richard Miles yang bule asli, Shitlicious tulisan sesat nan jenaka Alit Susanto semua berawal dari keisengan mereka nulis kejadian sehari-hari di blog pribadi. Dari hasil nulis, dibuatlah jadi buku, ditawarin ke penerbit konvensional, dan mulai lahirlah karya yang belakangan jadi Best Seller.


Itu buku karena udah jadi buku laris, diajaklah mereka jalan-jalan ke luar kota sampai luar negeri buar promo buku sampai bagi-bagi ilmu terkait dengan kesuksesan mereka sebelumnya. Sebut saja Raditya Dika, penulis konyol ini udah hafal banget kali ya seluruh penjuru Indonesia karena keseringan workshop.


Mungkin kalau belum ada blog kayak jaman sekarang, entah seperti apa mereka sekarang. Raditya Dika mungkin cuma seorang Ahli Hukum, Richard Miles mungkin Cuma jadi guru Bahasa Indonesia di SMA di Adelaide atau Alit Susanto mungkin juga jadi guru Bahasa Inggris. Ketiga mereka bisa saja jadi orang sukses, tapi tetap tanpa embel-embel ‘Penulis’ sperti sekarang.


Dewasa saat ini, bukan hanya blog yang menyediakan ruang untuk menulis. Sebut saja, sosial media Friendster, Facebook dan Twitter.
Friendster dan Facebook dengan halaman note yang dipunya, membebaskan siapa saya membernya untuk menulis. Begitu juga dengan Twitter. Dengan yang hanya berisi 140 karakter huruf, memungkinkan penggunanya untuk memutar otak mencari cara menulis sesuatu dengan kapasitas sesedikit itu.


Sayangnya, kedua media sosial tadi kurang memperhatikan tampilan dari halaman note. Memang, media tadi merupakan jaringan yang diperuntukan khusus laman pertemanan dan berkabar keadaan harian. Tapi, pasti tidak sedikit dari pengguna adalah orang yang suka iseng menuliskan cerita mereka di sana.


Di halaman menulis jejaring sosial tadi, lumayan merumitkan bagi penulis untuk membuat link tautan, memuat video musik kegemaran. Kalau tak faham dengan kode HTML, alamat bakalan ribet urusannya.
Di blog yang tersedia sekarang ini, hambatan menulis seperti yang saya sebutkan tadi lumayan tak berdampak parah. Blog menyediakan dua pembacaan mudah, HTML dan Visual. Selain itu blog juga punya alat bantu yang bisa kita gunakan untuk memasang video, memasukkan foto, dan memajang musik dengan bantuan kode banner. Sesuatu kelemahan yang tak dimiliki media sosial.


Dari segi tampilan, jelas blog lebih beragam dan menarik. Kita bebas mengganti tampilan Template sesuka kita. Mau yang berbayar atau yang gratisan, tinggal pilih.


Meski sosial media dan blog punya ruang menulis sendiri, kesan yang tetap ditangkap oleh sebagian orang yang suka menulis adalah: Sosial Media tetaplah sebatas sosial media, hanya media pertemanan. Dan blog tetaplah pilihan utama untuk kenyamanan menulis, blog sudah punya ‘nama besar’ tersendiri. Satu fungsi di mana blog tetap tidak tergantikan oleh Sosal Media saat ini.


Selain itu, berbagi tulisan dan bertukar link lewat fasilitas blogroll yang ada di blog merupakan satu kelebihan yang tak dimiliki sosial media. Jika di sosial media disuguhkan halaman Beranda untuk melihat aktifitas teman-teman, blog menyediakan halaman Dasbor yang menyuguhkan tulisan terbaru maupun komntar yang datang dari teman-teman.


Blog dan Sosial media, meski sama-sama menyajikan hal yang memanjakan penulis, tetap saja punya keterbatasan pada porsi masing-masing di mata pencintanya. Sesuatu yang tidak akan menggeser dan meredupkan fungsi keduanya. Saya fikir, itu berlaku untuk sampai kapanpun.

________

catatan sikil: Postingan ini diikut sertakan dalam lomba “Blogger return contest' yang diselenggarakan oleh Mbak Anazkia dan Denaihati.

Do'akan saya yak, temans.
MySpace
Read more...

Sabtu, 28 Mei 2011

Ga jadi deh

Tadi, udah blogwalking hampir sejam.
Tadi, udah ngerusuhin lapak teman-teman.
Tadi, udah niat banget pengen nulis.
 
Sekarang, udah ngantuk.
Tapi, pengen nulis banget. Banyak yang mau diceritain. Banyaaak bangeett.
Setumpuk,
Segudang,
Segambreng,
Sebanyak-banyaknya lah pokoknya.

Udah tengah malam.
Ga jadi deh nulisnya, besok aja.
Udah lupa mau nulis apa.
Muahahahaha

#Eh, jijik gak sih ngebacanya? Gak ada isi. Cari rusuh doang kan?
Aku aja yang ngetik pengen nge-delete lagi.cuma malas. 
Udah ah, segitu dulu aja. Besok ketemu lagi. Bay...
Read more...

Selasa, 17 Mei 2011

Akhir Penghabisan

Sumber gambar : michaeldennisadam.blogspot.com
Dia melangkah pelan menyusuri lantai papan rumahnya yang licin dan dingin. Kamarnya ada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar tidur kakaknya. Tepat di depan kamar tadi ada pintu yang kalau dibuka akan langsung menuju balkon tempat mesin cuci dan gantungan baju lembab, kolor basah, dan kutang setengah kering tersampir seperti rumbai-rumbai pesta ulang tahun.

Dulu, dia dan kakaknya sering bersembunyi di balik mesin cuci itu sekedar mencuri-curi menghisap rokok. Berlagak seperti Steven Spilberg di film laga. Menghisap cerutu penuh gaya, menahan asapnya dalam mulut lalu menghembuskan ke udara dalam bentuk bulatan-bulatan unik. Dan sepertinya, punggung mesin cuci bukanlah tempat yang nyaman untuk bersandar saat merokok.

Dia masih ingat, hari itu Minggu sore. Ayah dan Ibu sedang tak di rumah, kesempatan baik untuk merasuki pikiran kakaknya agar mengajarinya merokok. Pelan-pelan mereka naik ke balkon. Dia keluarkan dua batang rokok yang dicuri kemarin siang dari saku ayahnya yang tergantung di balik pintu kamar. Kakaknya yang pamer tentang cara membentuk asap rokok menjadi lingkaran bergulung-gulung benar-benar membuatnya iri.  Tapi, entah sudah hembusan keberapa tetap juga asap itu tak bisa dibuatnya bergulung-gulung. Rokok di tangannya tinggal seruas jari saja sekarang. Sedang kakaknya menatapnya iba.

Dia benci tatapan iba, dia pantang dikasihani, dia tak suka dianggap tak mampu. Semua bentuk air muka seperti itu seolah elusan halus di pundak saat kau mengalami kekalahan di permainan kasti yang sudah susah payah kau usahakan agar menang tapi tetap saja kalah, sedang badanmu sudah remuk redam terkena hantaman bola yang dilemparkan sekuat tenaga saat kau berlari ke pos amanmu. Saat itu kau pasti lebih suka mendengar makian dari pada pelukan dan tepukan di pundak untuk sekedar penyemangat, bukan?

Dia menatap kakaknya sadis. Semacam protes dan bentakan lewat telepati, “Apa lihat-lihat?! Aku pun pasti bisa!!”

Dia memang keras kepala. Rokok hampir menyentuh bagian busa putih tetap juga disedotnya dalam. Bibirnya sudah perih, lidahnya pahit, keringkongannya kering, tak terhitung berapa kali dia sudah terbatuk.
“Asu!”

Diputarnya puntung rokok ke semen penuh geram, mati. Dipungutnya. Dipandangnya beberapa lama. Ditendangnya sekuat tenaga namun meleset. Puntung rokok tetap di tempat tak bergeming, dia merasa diperolok. Emosinya memuncak. Diinjaknya berkali-kali hingga puntung rokok terburai mengenaskan. Tak cukup itu saja, tumit kakinya menindih kuat sisa puntung, lalu dengan gerakan memutar ditekannya berkali-kali puntung itu hingga lebur. Tamat kisah. Kakaknya bersandar kepala di dinding dengan mata terpejam, malas melihat adegan sadis tadi.

Di lain waktu, dia dan kakaknya menggelar tikar ayaman pandan kesayangannya ibunya di balkon atas. Menimpa tikar dengan tilam busuk yang mereka geret dari gudang. Menata tilam agak sedikit serong ke Barat, melarikan sebotol jus jeruk, menyelundupkan dua gelas tamu berbentuk cekung, mengisi setengah termos batu es, meracik roti dengan telur dadar dan mayonaise agar mirip Sandwich, dan menunggu hingga matahari sedikit terbenam.

“Kita seperti bule” Kakaknya ikut terbahak dan terbatuk karena serpihan debu tilam lapuk. Dia menuangkan lagi jus ke gelas kakaknya meski masih terisi banyak dan menjejalkan Sandwich ke mulutnya. Lelehan mayonaise mengotori sudut bibirnya dan dia tercekik batu es karena minum sambil berbaring. Hari hampir malam tapi mereka tak juga beranjak masuk. Di dalam rumah tak bisa melihat bintang, dia sesak menghirup udara gerah pendingin ruangan, kasur empuknya tak senyaman tilam tipis. Dia betah disini, menemani kakaknya yang tidur pulas dengan nafas teratur.

Pernah satu kali, dia membangunkan kakaknya tepat tengah malam. Dengan mata kuyu yang sembab, dia jejali kakaknya ocehan tentang pantai pasir putih di bawah tebing curam dekat sekolah perawat yang lama terlantar dan setengah rubuh. Dia tak sengaja menemukan pantai indah itu beberapa jam lalu saat tersesat ketika bersepeda.

Malam itu juga mereka nekat ke pantai. Berpegangan pada tepian batu dan sulur-sulur tanaman rambat yang menjalar mengelilingi tebing. Tepat di bibir pantai, patahan ranting-ranting kering pinus yang meranggas, berserakan begitu saja. Cahaya remang malam menjadikan pohon kelapa menjelma seperti makhluk asing raksasa dengan tangan yang menggapai-gapai, mengerikan.

Sepenuh malam, dia dan kakaknya tidur bersandar bahu dengan senter listrik yang tetap menyala. Merapatkan jaket hingga ke leher untuk menahan dingin, membiarkan air laut menjilati separuh betis mereka, mendengar musik deburan ombak yang menghantam karang, menekan perut agar lapar tak terlalu terasa hingga pelupuk mata memohon untuk dipejam. Suasana hening. Bisu. Kelam. Dengkur dan gemuruh ombak saling bersahutan hingga pagi.

Dia masih berdiri di balkon ketika tangan lembut menyentuh pundaknya. Tangan itu gemetar, terasa sekali.
“Mobil pengantar jenazah sudah di depan. Mau ikut?”
Dengan mantap dia mengangguk. Dia terlanjur terikat janji yang tak terlanggar.

 “Temani aku ke pemakaman nanti, ya.” Kakaknya menggenggam lemah tangannya, seperti memohon. Dia merasa akan tumbang. Lututnya goyah.

Kakaknya pasti tak ingin pergi sendiri ke tempat pemakaman. Dia kenal kakaknya. Dalam hati dia marah dan protes namun sama sekali tak keberatan. Mengapa dia harus menyanggupi permintaan seseorang yang selalu menemaninya belasan tahun tapi tak setia kawan dan lebih memilih meninggalkannya sendiri, tunduk pada bujuk lelaki ceking yang masih tersenyum saat selang-selang yang membebat tubuhnya harus dicopot semua. Harusnya dia menolak.

Dia sesenggukan waktu itu. Namun, air matanya menguap bagitu mendengar cerita kakaknya tentang gua-gua dimana mereka pernah menyaksikan burung betina mengajari anaknya pertama kali mengepak sayap, bercerita tentang rumah pohon mereka yang setengah jadi dan akan basah jika hujan karena dinding sebelah kiri sengaja tak dibuat agar mereka bisa melihat pohon randu saat berbunga, tentang berat tubuhnya kala dia digendong kakaknya di punggung sambil berlari karena kalah bertaruh kelereng, tentang hayalan konyol mereka yang ingin menjadi bajak laut hingga merusak kain batik ibunya yang dililit pada batang sapu membentuk layar kapal hingga tertidur karena kelelahan.  Dia menyerapah dalam tawa yang sedih.

Bertahun dia mengalaskan hidupnya dengan doa-doa agar maut tak seinci pun sanggup menyentuh kakaknya. Tak perduli pagi, siang, malam atau kapan pun. Tapi sekarang, penyakit maupun kecelakaan tetap menjadi jalan bagi Pemilik nyawa untuk memisahkan mereka, pikirnya.   

Dia terdiam. Dunianya abu-abu. Sekeliling nampak berbayang dan muram. Genggaman di tangannya melemah hingga akhirnya terkulai di sisi tempat tidur. Meja, kursi, selang infus dan kantong cairan yang tergantung di tiang besi terasa lebih dingin dari biasa.

Ibu tegak kaku disebelahnya, Ayah meremas rambut dan menghela nafas berat. Kumpul keluarga yang dia dan kakaknya selalu rindukan dan baru kesampaian hari ini. Hari dimana isak tangis bukan lagi haru.

Ayah yang tegas dan penuh wibawa ternyata luluh di hadapan kakaknya yang berbaring tenang. Ayah terisak seperti anak kecil, entah kemana semua garang dan angkuhnya disangkutkan.

“Dia sudah pergi, semua yang hidup pasti akan mati. Tapi, harusnya aku tau apa cita-citanya” Sebuah penyesalan yang terlambat. Penyesalan yang tidak bisa dia terima dengan alasan apapun. Dikeluarkannya selendang Hitam pemberian kakaknya dua hari lalu. Hadiah yang paling tidak ingin diterimanya dengan hati sakit.

Dipakainya selendang, doa paling tulus dia bisikkan pada Penguasa Jiwa. Dia yakin doanya pasti sampai meski air mata dan sesenggukan menyamarkan kalimatnya. Dia aka tetap disini. Berdoa dan meresapi semua kenangan indah mereka, dia dan kakaknya. Dia tak punya kenangan lain. Seperti hatinya.
 
  



 ______________________________________________


Catatan sikil : Tanpa mengurangi ketertarikan saya pada blog ini, maka izinkan saya membuat pengakuan, sodara-sodara!!
Tulisan ini sebenarnya akan diposting di Kompasiana, akan tetapi kegeblekan saya yang tidak bisa edit hasil copas dari Word membuat draftnya berantakan. 

MySpace Berhubung sudah terlanjur nulis, maka saya tempel saja disini. Blog juga punya sendiri ini. Hahahaha


MySpace
Read more...

Selasa, 03 Mei 2011

Degradasi to the max


Belakangan, aku benar-benar ngalamin yang namanya kemunduran dalam hidup. Pagi-pagi, bangun dengan pesimis luar biasa, gampang tersinggung, sensitif kronis level akut, ngelihat semua cuman sebatas kepicikan pribadi.

Gak tau ini awalnya kenapa kok bisa gini. Damn!
MySpace

Mungkin karena telpon papa yang tiba-tiba ngerusak mood,

Mungkin juga karena suasana tempat nongkrong yang udah gak nyaman,

Mungkin karena banyak hal yang udah terasa sia-sia dan gak sejalan dengan apa yang direncanakan sebelumnya.  Kayaknya, semua keburukan dalam sinetron muncul dalam hari-hari yang aku jalanin. Jadi monster. Nelikung dari semua sudut.

Yang paling parah, ini jadi berimbas ke aktivitas sehari-hari dan orang terdekat. Gak tau aku yang memang-sadar gak sadar-menjauh pelan-pelan atau memang mereka yang sengaja gak mau aku keusik, entah. Pokoknya semua terasa beda, aneh.
MySpace

Aku pengen ngebangun semua dari awal biar nyaman lagi. Tapi udah terlanjur hancur kayaknya.

Aku kangen teman-teman lama yang benar-benar ngebuat betah. Gak kayak sekarang, aku ngerasa mereka bukan teman yang kayak dulu. Well, satu dua orang masih sama sih, tapi kebanyakan udah berubah. Mungkin juga karena sibuk ke urusan sendiri-sendiri kali ya.

Dulu, aku bisa jadi diri sendiri yang ngomong bisa asal nyablak seenak mulut. Sekarang, orang-orang kayaknya jadi pada sok intelek, ngomong mesti dicerdas-cerdasin, gak tau biar apa. Bahan bicaraan jadi pada tentang hal-hal yang bikin bete.

Dan begonya, aku niat banget sampe usaha biar kelihatan setara dalam urusan otak dan perilaku. Tapi, sumpah! Gak nyaman banget. Aku jadi ngerasa kayak manekin hidup dan tolol.
MySpace

Salut berat ke orang yang bisa tetap hidup dan jalan di muka dunia ini make muka yang bukan wajah sendiri.

Oiya, kemaren dari jam sembilam malam sampe jam tiga hampir Subuh, aku ngebaca buku Chairil Anwar yang ‘Aku ini binatang Jalang’. Buku yang udah lama banget aku cari tapi baru dapat sekarang dari teman yang kebetulan kolektor buku sastra-sastra lama. Ini kayak satu anugerah dadakan buat nalangin sedikit hidup yang kacau.

Ha ha ha 

Entah kenapa aku tiba-tiba kefikiran ke Chairil Anwar dan penyakit paru-parunya dan meninggal di umur yang dua puluh tujuh tahun, tiga bulan lebih dua hari.

Terus, entah nyambung dimana tapi bayangan Soe Hok Gie yang mati keracunan asap di Semeru sehari sebelum genap dua puluh tujuh tahun datang gitu aja.

Disusul lagi sama R.A Kartini yang juga meninggal di umur dua puluh lima tahun lebih.

Kalo diurut-urutin, akhir usia mereka berderet selang setahun menjelang kematian. Ditambah lagi kerisauan-kerisauan mereka tentang hidup, tentang masa depan negeri, tentang ketidakpuasan ke diri sendiri, tentang kesunyian hidup mereka, tentang galau, tentang apa aja.

Aku jadi mikir, jangan-jangan yang berikutnya itu....

Ah, gak mungkin! Aku belum bisa apa-apa. Jadi gak mungkin juga cepat mati.  

Mungkin mereka meninggal karena Tuhan udah nganggep perjuangan mereka, ya, udah cukup sampe segitu aja. Udah paling maksimal, udah saatnya mereka istirahat dari ‘letih’ mereka selama ini. 

Mungkin, sesuai janji Tuhan ke mereka, mungkin itulah waktu yang tepat buat mereka santai setelah bersusah payah merubah kondisi yang berat dengan usaha luar biasa. Meski keadaan gak bisa berubah total, seenggak-enggaknya udah lebih mending dari sebelumnya.

Mungkin juga, Tuhan milih mereka sebagai tokoh pembaharu karena memang merekalah orang yang mampu dan berani. Cuma merekalah yang sanggup hidup terasing dan terkucil di atara pergaulan yang harusnya bisa mereka nikmatin sampe puas.

Mungkin mereka dipilih langsung sama Tuhan dan sengaja dibekali kelebihan intelegensi sampai bisa mengeluarkan unek-unek mereka lewat tulisan, karena tak mampu melawan dengan pelor peluru. Perlawanan elegan tingkat dewa memang.

Ngomongin tentang tulisan, aku jadi ingat Kompasiana. Hampir dua bulan aku gak nulis lagi di sana. Degradasi.

Kadang, isi kepala membuncah-buncah pengen nuangin semuanya, tapi tiba-tiba stuck di tengah jalan. Sekuat apa aku maksain jari buat nulis, yang ada, di depan monitor semuanya buyar. Sementara, teman-teman lain makin produktif dengan tulisa-tulisan hebat.
MySpace

Aku udah berusaha benar-benar yang, ‘Take a break even for a while’. Aku udah berusaha santai semingguan lebih, berleha-leha ngejauhin laptop, nyingkirin bahan bacaan apapun, nonton dari pagi sampe ketemu pagi lagi, bersenang-senang sebisa aku. Tapi tetap aja. NOL!

Aku benar-benar takut kalo nanti aku udah gak bisa nulis sama sekali. Sekarang, aku ngerasa otak cuman jadi simbol doangan karena gak bisa dipake buat mikir. Takut, iya! Benaran takut banget.

Harusnya, aku gak nulis ini di blog karena pasti bakal ada aja yang gak suka dan jijik, nganggap cuman curhat menye-menye yang sampah banget. Terserahlah, aku udah terlanjur begadang dan ngejatuhin harga diri ke dasar paling bawah. 

Udah ngantuk. Belum tidur dari semalaman. Mudah-mudahan, ketakutan aku cuman sebatas ketakutan biasa dan gak benar-benar kejadian. Semoga.

MySpace
Read more...

Rabu, 13 April 2011

Postingan Mumet galau seketika.

Aku blogger murtad! Iya, benar. Udah lama banget aku gak up date di blog ini. Tulisan sebelumnya aja, bahkan komentar dari teman-teman belom aku balasin satu-satu. Blogwalking  juga seringan jadi silent reader yang gak ninggalin jejak sama sekali. Maaf yak buat semua, saya khilaf. Kerugian akan saya ganti sepenuhnya sesuai kemampaun saya. Tolong keluarga saya jangan diganggu. Lah, malah kayak tante Inong Melinda si melon gede. Maaf ya, Tante..
MySpace

Sebenarnya bukan di sini aja sih aku lama gak mosting, di Kompasiana juga. Terakhir nulis cuman pas ada acara Festival Fiksi Kolaborasi pertengahan Maret kemaren aja. Tanggal 23 ini bakal ada acara nulis cerita anak lagi di sana. Gak tau ikut apa nggak. Kemungkinan besar sih enggak, eh, gak tau juga sih. Lihat nanti lah. Kesannya aku ini udah kayak penulis beken sejagad aja yak. Ha Ha Ha . bodo, ah!


Sebenarnya banyak yang mau aku ceritain. Tentang Nurmi yang udah skripsian, tentang Bang Adi baru putus-nyambung-terus putus lagi-nyambung lagi-terakhir putus beneran (sebenarnya ini bukan putus nyambungnya yang pertama. Sebulan ini aja udah dua kali putus-nyambung). Kemaren-kemaren sempat niat bagi cerita tentang rencana besar jadi enterpreneur muda, tentang kecewa setengah mati karena gak jadi buka usaha laundry bareng teman-teman, tentang mama yang pelihara sepasang ayam di Komplek (iya, ini konyol tapi berhasil juga sampe sekarang). Banyak banget lah pokoknya.


Sayangnya, semuanya cuma cukup jadi tulisan angan-angan doang. Gak papalah. Seenggak-enggaknya, aku udah sempat punya niat buat nulis. Meski Cuma sebatas niat, pasti malaikat udah nulis pahalanya. Ha h ha. Alibi terhebat tanpa sanggup disanggah. Cerdas kau, Nova!


Oh iya, kemaren aku baca ulang bukunya Paman Soe Hok Gie. Ya, you know lah, yang Catatan Seorang Demonstran itu. Ini bukan kali pertama sih sebenarnya aku baca buku itu sampe halaman terakhir-terakhir. 

Pertama kali baca buku itu dari hasil pinjaman (barter lebih benernya) sama pacarnya teman. Awalnya, aku fikir itu buku yang cowok banget waktu liat dari sampulnya. Maklum, jaman SMA aku masih suka Komik teenlit yang cinta-cintaan romantis sepanjang halaman pertama sampe tamat.
MySpace

Gak juga ding! Pas jaman SMA kalo gak salah, anak SMA se-Batam lagi demam Detective Conan. Iya, soalnya di tiap toko buku pada jual itu komik pake diskon 30% pula. Jelas aku gak mau kalah dong. Karena aku sadar banget berpotensi sebagai orang yang paling kere, timbullah sifat kereaktif bukan main. Tukar menukar komik yang bukan hak milik. Lumayan bisa baca sampe serial 50an secara cuma-cuma. Kadang kita harus miskin minta ampun diantara semua teman biar otak bisa maksimal. Prinsip sesaat manusia papah.

Eh, ini sebenarnya mau cerita apaan sik? Dari tadi kok muter-muter gak jelas gini? 
Sebenarnya, aku juga gak tau mau nulis apaan. He he he. Dari tadi aku pengen banget-bangetnya curhat. Trus panen nasehat sana-sini. Tapi mau curhat apaan? Bingung.
 

Mau curhat soal pacar-pacaran? Putus-putus cinta? Udah biasa di mana-mana.

Mau curhat keluarga? Kesannya kok ya cengeng amat, nona!

Mau curhat tentang teman-teman yang udah pada nerbitin buku ato minimal punya e-book? Ish, gak mutu amat yang begituan dicurhatin!

Mau curhat tentang prinsip hidup yang gak pengen ikut-ikutan orang lain? Lah, katanya pengen beda dari yang lain. Perkara beginian kan urusan pribadi, ngapa meski disebar-sebar gembar-gembor sih? Dodol nih anak.

Curhat tentang cem-ceman yang ngasih sinyal putus-putus kayak koneksi Speedy kalo lagi hujan badai? Gak elegan bener deh ah. Drama to the max. Kayak gak punya bahan curhatan yang bagusan dikit, beibeh!
Yah, itulah pokoknya.



Tapi, dari sekian banyak hal yang bikin galau (Jiah ile bahasanya) ada satu yang nyesesakin banget. Tentang seorang paman-dunia maya yang belom pernah ketemu sama sekali-sekaligus guru menulis fiksi ecek-ecek yang tak boleh disebut namanya.

Seharusnya ini kabar gembira dan aku meski juga senang, tapi entah aku kok sedih banget, gak tau kenapa. Paman hebat ini harus ke luar Indonesia nerusin belajarnya tentang ilmu-ilmu tani. Aturannya dia berangkat Maret lalu. Karena tsunami ( apa banjir yak? Lupa!) keberangkatannya ditunda jadi akhir April ini.

Aku ngerasa udah dekat banget ke dia, meski dia gak gitu sih ke aku. Gak wajib lah. Segala macam tanya-tanya gak mutu selalu dijawab konyol tapi ‘kena’ banget. Segala canda sampe cela-celaan gak bikin dia sakit hati.

Kopdar sekalipun gak pernah. Komunikasi cuman dunia maya, bahkan email pribadinya aja aku gak punya. YM! nya aja aku gak tau. Kurang konyol apa coba? Aku ngerasa akrab aja gitu gak tau. Mungkin karena dia ramah sekaligus nyeleneh kali ya.
Judes tapi bersahabat. Sok cool tapi ramah. Sering ngaku jadi pemalas tapi lumayan produktif nulis juga. Aku benar-benar ngerasa, “wah, gila ni orang hebat amat. Bikin kagum, coy!”
MySpace

Sekarang udah pertengahan April. Akhir bulan ini dia pergi. Aku makin sedih. Bayangan papa muncul tiba-tiba.
Paman itu mirip papa. Sumpah! Papa versi muda, hampir gak ada beda. Papa dua belas tahun lalu pastinya. Kadang kalo kangen papa, aku ngerecokin si paman tadi, rasanya udah cukup.

Eh, ini apaan sik?  Ngaco!
Anjrit! Malah mewek pula. Udah ah.
Bangshhaaat! Ha ha ha

MySpace
Read more...