![]() |
Diambil dari arunals.files.wordpress.com |
Setiap Kun hanya berjodoh dengan fayakuun
agar lengkap dia sebagai perkataan ajaib Tuhan, si Penguasa yang Maha
Segala. Sekali waktu saat menerima orderan do'a manusia yang berjubel
dalam sehari, Tuhan malas membaca kun fayakuun tadi. Sudah tau Dia siapa yang meminta. Maka jangan heran pada ucap semoga yang terlampau sering menjadi musykil.
Harusnya
di dunia ini tak disekat antara baik dan buruk. Kenapa otak tak
diletakkan saja di luar batok kepala agar pikiran cabul, meski hanya
sekelebat, jelas terlihat dan sebesar apa isi kepala kita yang
sesungguhnya.
Hahahaha
Kalau begitu akan berlomba orang-orang melafazkan alif, ba, ta, tsa. Bar dan dentuman speaker yang menggema akan kalah dibanding surau tempat mengeja dhomah, tanwin dan sukun lewat pengeras suara karatan tak terganti berkali musim.
Tak ada
yang lebih menggelisahkan bagi perempuan rumah bordil selain tak dapat
pelangan meski telah lewat larut malam. Gincu dan pupur sudah mulai
luntur dengan busa penyangga dada melorot berkali-kali, tali kutang yang
kendur bukan lagi menjadi prioritas utama untuk dibeli jika sudah ada
beberapa lembar uang di tangan.
"Kalo sudah tak tahan menjaga selangkangmu, baik kau puasa."
Itu
ucapan terkonyol yang pernah didengar Ratmi, perempuan rumah bordil itu.
Demi Nabi yang selalu menyampaikan wahyu, dia bukan haus birahi. Hanya
saja kalaulah dia tak melacur, siapa bersedia menanggung mulut tiga
anaknya yang butuh makan sedang laki mati tak berwarisan?
"Baik kau cari riski halal, Ratmi."
Bukan
dia tak percaya pada agungnya Tuhan, tapi bagaimana dia tak kecewa jika
orang hanya cakap bernasehat tapi berpaling bila sudah ditadahi tangan.
Dia pun faham dosa, tau hakikat sorga-neraka,
mahir membedakan baik dan buruk. Dia bukan pula berputus pengharapan
pada kuasa Tuhan, hanya saja terlalu perih beban yang ditanggungnya.
Tuhan
selalu baik pada setiap manusia, maka diciptakannya dua takdir mutlak
tak terbantah: Takdir dapat diubah dan takdir yang tidak dapat diubah,
takdir mentok kalau kata orang.
Seperti
penciptaan setan yang menjadi pembangkang. Jika saja dari awal para
setan sadar mereka memang sengaja diciptakan agar manusia bisa arif
dalam hidup, maka harusnya mereka menuntut hak pengembalian nama baik.
Terlalu
lama mereka pasrah dituding atas perbuatan manusia yang tak sedikitpun
berasal dari bisik dan rayu setan sendiri. Setan tengah lengah tertidur
pulas meredam panas luka tusuk tombak berbara api neraka sambil
tersedan, saat manusia saling bunuh. Saling hujat, saling tuding, saling
lempar kesalahan. Berujung pada teriakan,
"Akulah yang benar!"
Tapi tuhan memang Maha Bijaksana lagi Maha Perencanaan. Dia merancang semua agar nanti dapat dilihat siapa yang benar khusu' dalam sujud atau sekedar ruku' dalam striptease liukan tubuh yang semlohay.
Berlinang
air mata perempuan rumah bordil itu saat dua anaknya terpaksa dirampas
kamtib sewaktu di pertigaan lampu Merah mengguncang kerincingan tutup
botol menjaja suara. Anak titipan Tuhan yang semestinya dijaga dan
disusui, telah menjelma menjadi anak yang dibesarkan debu dan
didewasakan didikan angin.
"Mak, kami ni dah bukan budak kecik lagi. Tak mengapalah kalo memang harus mengamen, biar mak tak perlu bergincu tengah malam."
Ibu
mana yang tak perih hatinya mendengar pinta setulus itu. Kalau boleh
memilih, baik perempuan itu luka dipukuli lelaki maniak saja, bisa
disembuhkan barang sehari dua hari.
"Mak, mungkin besok kita tak bertemu lagi. Kitorang nak dibawa... katmana, bang?"
Anak
kedua dari perempuan rumah bordil itu mengoceh sambil mengunyah roti
tawar yang diangsurkan ibunya. Sementara abang yang ditanya tak kalah
sibuknya mengolesi roti dengan gula pasir, tak ada mentega, tak ada
selai kacang.
Perempuan rumah bordil itu memeluk erat anak terkecil yang harusnya masih menetek sampai sekarang, ada luka di mata perempuan itu. Bukan tanpa alasan dia melacur selama ditinggal laki. Bagaimanapun pahitnya hidup selama bersama dengan anak-anaknya, si perempuan yakin dunia tetap tak akan terbalik.
Tapi apa lacur sekarang?
Karena
Tuhan punya rahasia, disebutlah Dia Maha Agung. Tak ada yang luput dari
pengawasan barang sedetik. Tak ada yang terlupa dari pantauannya barang
sekejap meski doa tak selalu langsung terijabah. Tuhan malas mengucap kun lalu fayakuun di saat bersamaan.
Begitu
pula dengan perempuan rumah bordil, lewat razia kamtib ada pesan
langsung dari Penguasa. Lewat pintu yang tertutup, Dia membuka banyak
jendela lain.
Perempuan
rumah bordil itu kali ini bergincu dan berpupur lagi setelah absen
belasan tahun lalu. Diusapnya kaca yang kian buram menguning dengan
telapak kiri, tangannya bergetar saat memoles bibir yang kian keriput
dengan gincu yang sempat menghiasi bibirnya bertahun silam.
Perlu
beberapa kejap meratakan pupur pada wajahnya, dia sudah tak terampil
kini. Ah, perempuan rumah bordil itu tertegun. Pernah dia bersumpah tak
akan bercermin lagi hanya untuk berias. Dulu, dulu sekali saat anaknya
meminta dia berhenti melacur.
" Mak, cepatlah. Dah datang mobil kat depan. Satu jam lagi Bang Amir wisuda."
Inilah Firman Tuhan yang tak sempat dibaca Ratmi. Takdir!
*****
catatan sikil:
kitorang: kita
katmana: dimana
budak kecik: anak kecil
nah! :D
BalasHapus*klepek-klepek*
BalasHapusnice share.. bagus buat renungan.... :-bd
BalasHapusmantaplah isinyaaaa....
BalasHapusPungsoy: Maap dek, apa kita pernah kenal??
BalasHapusAhahahaha
New Laptop: Tengkiyu balik, gan. :D
Makasih dah mampir, Man.. :)
BalasHapusnice share..
BalasHapustapi bahasanya ada beberapa yang aneh. Sengaja dibikin logat Malay?
siapa sangka
BalasHapuspelacur bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana.
uih.. dah lama banget ni aq ga mampir kesini, udah jarang ngeblog skrg.
tapi masih altif blogwalking
pok pok pok..jalur hidup siapa yg tau..eeaaa
BalasHapuskomenku mlebu ora ikii?
BalasHapus(L)ain: Itu bahasa Melayu kampungku. Bukan Malaysia :'(
BalasHapusBang Geafry: Aku juga udah lama gak ngeblog. (SOK) sibuk. Hahahaha
Jalur hidup sapa yang tahu.
BalasHapusYa, samalah kayak jalanan di 'Kalimantanmu' itu, Mas Adit.
Becek, lobang, banyak lagi. hallah..
Iye, komennya ada kok. :p