![]() |
Foto main ambil dari Google |
Saya
mengenalnya pertama kali di pertengahan musim semi yang suram. Ketika saya terlalu
sibuk membenahi hati yang berkeping-keping hingga tak sempat memperhatikan hadirnya, belakangan saya sadar kalau saya telah berbagi kehidupan dengannya.
Saya bahkan tidak ingat kalimat apa yang ia diucapkan saat memperkenalkan diri.
Yang jelas, saya terpukau pesonanya.
Ia datang
menutup hari saya, kemudian minggu, lalu bulan berlari begitu cepat. Kekasih
saya tidak pernah lagi berkirim kabar. Saya pun tidak mencoba mencarinya.
Seperti kekasih yang sudah-sudah, mereka akan pergi saat merasa perhatian
menjelma belenggu dan rindu telah mulai basi. Lalu akan kembali saat merasa
dingin malam terlalu menyayat dan tidak ada dekap paling hangat selain peluk
yang dengan berjuta alasan mereka tinggalkan.
Ia, teman
saya itu, orang-orang menamainya senja. Senja yang saya kenal tentulah bukan
senja yang sama seperti kebanyakan senja-senja yang lain. Saya menjalin
hubungan diam-diam dengannya di kemudian hari. Kami bertemu saban petang, saya
akan menyibak tirai lebar-lebar agar senja leluasa masuk dan keluar bersama
angin. Saya menyanyikan tembang asmaradhana yang mendayu di ambang jendela dan
ia masuk berjinjit kaki agar lantai papan kamar saya tidak berderit.
Senja
telah menjadi milik saya dan ia bukanlah senja yang sama dengan senja yang
sering dijumpai orang-orang di sembarang tempat. Senja milik saya adalah senja
yang manis. Senja yang manja dan sedikit kekanakan saat sedang merajuk. Senja
akan datang dengan jingga keperakan saat hatinya tengah senang. Saya akan
menghabiskan waktu berdua dengannya di dalam kamar, di atas dipan, kadang juga
dibalik pintu. Saat petang makin kelam, senja akan beranjak ke sisi jendela.
Senja tidak pernah tampak dari jalanan di bawah kamar saya.
Pernah
sekali waktu saya tertidur dan terlambat menyibak tirai. Senja muntab bukan
kepalang. Tubuhnya tidak lagi keperakan, ia memerah. Semerah-merahnya merah.
Senja tidak suka menunggu untuk saya yang terlelap. Ia menerobos, menerjang
celah-celah gorden lalu berdiri di samping saya yang tertidur dihunjam bantal
dan selimut. Ia memandangi saya dalam diam. Pergi pun ia tidak pamit. Esoknya,
kembali saya melantunkan asmaradhana di tepi jendela. Bak penyihir memanggil
arwah dengan jampi dan rampai, senja datang, wajahnya berseri-seri.
Saya
tidak pernah memperkenalkan senja pada siapapun. Mereka akan berpikir kalau
saya mulai gila lalu menjauhi saya. Itu juga demi kebaikan senja, saya tidak
mau orang mencemooh senja dengan gunjingan yang buruk. Saya mulai menyayangi senja.
Memahaminya. Mungkin juga saya ketakutan menerima kalau saya mulai jatuh cinta
padanya. Saya ingin senja tidak terluka.
Hampir
seratus tujuh puluh hari saya habiskan berdua dengan senja. Terkadang saat
sedang bosan di kamar, kami mengunjungi pantai. Saya bungkus tubuh senja pada
handuk tebal, saya masukkan ke dalam tas yang saya sandang seolah tidak ada
senja di dalamnya. Sesampai di pantai saya keluarkan senja begitu hati-hati di
satu tempat paling sepi. Saya tidak ingin orang menggunjing hubungan saya dan
senja.
Angin
laut menampar-nampar wajah saya. Saya mengelak tapi tidak mempan. Rambut saya
acak-acakan, semakin berusaha saya rapikan, usaha saya makin sia-sia. Saya menggerutu
dan senja tergelak. Berkali-kali saya merengek pada senja agar tidak bertemu di
pantai. Saya tidak ingin terlihat berantakan di depan senja. Ia bilang tidak
masalah, ia lebih menyukai saya yang tampak konyol. Bibir saya mengerucut lalu
senja akan memeluk saya dari belakang. Punggung saya beradu dengan badannya
yang hangat. Kuduk saya meremang.
Terkadang
senja datang terlambat. Ia harus mampir dulu ke satu tempat lalu tergesa
menemui saya. Saya bilang kalau memang tidak sempat, tidak perlu datang. Waktu
kita tidak banyak dan ada saat saya harus berdiam lama di tempat lain dan tidak
bertemu kamu. Tidak ada alasan buat saya melewatkan hari meski nafas tersengal,
katanya disela amarah yang mati-matian ia redam.
Saya
masih punya kekasih, ia akan bisa datang kapan saja. tidak masalah kata senja.
Kamu tidak cemburu? Tidak! Kita hanya berteman. Kita lebih dari teman, teman
tidak akan rutin mengunjungi temannya hanya untuk bercakap-cakap dan
berpelukan. Kadang saya juga mencuim kamu. Kapan? Sering. Saya tidak tahu,
kapan? Kamu bukan tidak tahu, kamu pura-pura tidak tahu. Kami tergelak
berderai-derai.
Sewaktu
dunia menjelma jadi pendakwa yang menakutkan, mimpi buruk saya terbawa ke alam
nyata. Kekasih yang pernah meninggalkan saya kembali dengan tubuh kuyu tergerus
waktu. Badannya kurus dibalut lapisan kain warna-warni kumuh juga dekil. Baunya
apak, seperti tumpukan baju lembab di ujung ruangan yang beradu dengan kecut
keringat. Kekasih saya itu datang saat saya tengah berkasih-kasihan dengan
senja. Saya dan senja membatu. Kekasih saya yang datang dengan sempoyongan,
menempelkan aroma petualangnya pada pundak, dada dan paha saya. Bukan main
jijiknya saya. Nafasnya tidak lagi berbau tembakau. Mulut dan lidahnya penuh
serapah. Menyumpahi senja yang kian memerah. Saya menggenggam tangan senja,
sementara tubuh saya ada dalam dekap lelaki beraroma sangit. Beberapa saat
hingga akhirnya senja melunak dan pergi. Di dalam pelukan kekasih saya, saya
mematung. Saya tidak menangis. Tapi dada penuh sesak. Mata saya perih.
Awal musim
dingin saat gerimis jatuh satu-satu, saya kehilangan senja. Saya tidak berusaha
mencarinya, bukan karena senja juga akan kembali jika sudah butuh pelukan.
Tidak! Saya tidak pernah memeluk senja. Senja yang memeluk saya. Saya dan senja
juga tidak sepasang kekasih yang sah, jadi ia tidak akan kembali dengan keadaan
menyedihkan seperti kekasih saya yang sudah-sudah. Senja akan datang dengan
angkuh yang anggun. Menghalau kabut dengan tubuh jingga keperakannya, kalau
perlu ia harus datang dengan tubuh tingginya yang merah, semerah-merahnya merah,
agar kekasih saya terperanjat.
Lama saya
menekuri kenangan sembari menunggu senja tiba. Saya melihat senja datang ke
arah saya dari kejauhan. Begitu bertemu, saya dekap ia dengan sepenuh tangan
saya, sebisa saya dapat menggapainya. Saya hampir tidak mengenalinya, senja tidak
lagi garang di November. Senja tidak merah, tubuhnya pucat. Saya terkesiap.
Saya selalu datang menemui kamu, tapi kamu tidak tahu. Kamu terlalu sibuk
dengan kekasih yang baru kembali, todongnya. Suara senja perlahan parau menahan
isak
Senja
tertawa dalam sedan yang tertahan. Ia lalu memaki, terbahak-bahak di sela
gemuruh yang memekakkan, ia memanggil setan-setan agar keluar dari
persembunyian petang yang redup, memancarkan panas yang tak lagi hangat.
Dekapan lembutnya berubah listrik. Saya gemetar ketakutan. Ia bukan lagi senja yang
saya kenal, ia telah telah menunjukkan bentuk aslinya, ia adalah monster. Saya
melarikan diri tapi langit limbung di kepala saya.
Segaris
awan kelabu membentang di cakrawala. Kata orang senja tidak pernah melintasi
kampung ini. Telah lama perahu menjadi bangkai, lautan tidak lagi berombak
karena beku, cemara angin tampak kaku dan terlihat seperti pohon hantu
berjari-jari panjang di tengah malam. Tidak terlihat lagi ujung lading penuh
darah ikan karena ikan tak lagi dijaring ke tengah lautan. Pelantar berubah menjadi
hiasan percuma di sepanjang kampung. Mereka memecah laut yang membeku lalu
mengeluarkan ikan seperti mengeluarkan korban kapal pecah di Antartika yang dingin
menyumsum. Senja tidak pernah melintasi kampung ini.
Di satu
restauran di perkampungan nelayan saya membuat janji akan bertemu senja kembali.
Saya memilih duduk tepat di depan pintu, ketika senja datang ia bisa langsung
mendekap saya dengan rindu yang berdebar. Lalu akan saya masukkan ia ke dalam
tas, membawanya berjalan-jalan seperti dulu. Telah saya putuskan sesuatu.
Dengan
sedih yang berdarah-darah, saya bawa ia-yang saya bekap di dalam tas-ke tengah
pasar. Pada cukong terkaya, saya menjualnya. Senja dipotong-potong menjadi
serpihan kecil lalu dilemparkan menghadap langit. Penduduk bersorak. Di mata
saya mereka semua sama. Kulit keriput dan putih tak lazim. Musim dingin di
bulan November mereka bermandikan serpihan tubuh senja yang jingga kemerahan. Mereka
meraup senja begitu rakus, memasukkannya ke dalam kresek, memunguti
potongan-potongan kecil tubuhnya, ada yang menyimpannya dalam kaleng biskuit, ada
bocah kurus kegirangan karena tubuhnya yang pasi diguyur ibunya bermandikan
senja.
Saya tinggalkan
senja di sini. Di kaki saya, satu mozaik tubuh senja terbawa dalam langkah saya
menuju pulang.
ya ampun,disini aku menemukan senja yang lain... *ngebayangin ikan mas asam manis :P
BalasHapuswahhhhhh wajar saja senja tak sempat menjengukku seratus hari ini jadi dia bersamamu, tak begitu paham tapi lumayan menghujam, tentang pemaknaan? akan ku tanya senja bila ia utuh kembali, oh nasibmu senja yang telah berkeping =,=
BalasHapus