Pages

Selasa, 17 Januari 2012

Ada dia di matamu


Dear Fauzan,

Lewat surat ini kukabarkan padamu bahwa aku baik-baik saja dan semoga begitu jugalah adanya denganmu.

Sebenarnya sudah lama ingin kukatakan bahwa kepergianku bukan karena kesalahanmu. Juga bukan karena dia. Tidak ada yang patut dipersalahakan dalam hal ini, sayangku. Kalaupun ada yang patut dipersalahakan, satu-satunya adalah diriku.

Maaf karena aku tidak bisa setia seperti yang kamu harapkan, Fauzan.

Bukan karena aku tidak cinta padamu, bukan pula karena kamu tidak menarik. Sangat klise jika kukatan jika selama ini kamu terlalu baik. Tapi bukankah sebagian besar yang adanya di dunia ini memang klise?

Kita bertemu, akrab, jatuh cinta lalu saling menjauh adalah satu dari banyak hal klise?
Anak yang terlahir dari rahim seorang ibu, besar, dewasa, menikah lalu meninggalkan ibunya juga klise? Bukankah banyak janji-janji manis yang diumbar lalu terbiar begitu saja tanpa satu perwujudan juga hal yang klise?


Fauzan, kasihku

Kuharap jangan pernah terbersit di hatimu untuk membenciku, meskipun itu tetaplah hakmu yang tidak bisa kusangkal.

Baik kita saling melupakan apa yang telah kita lalui sebagai hal yang patut dikenang saja. Tidak lebih, tidak lebih, Fauzan.
Di sini mati-matian aku menata hati kembali. Mengembalikan semua yang telah terserak dan berburai menjadi satu mozaik  yang dapat kugenggam sebagai pengingat.

Fauzan, cintaku
Maafkan jika sampai hari ini belum bisa kutetapkan hati untuk memilihmu. Sekali lagi, sekali lagi, Fauzan. Tidak ada yang salah denganmu.

Fauzan, belahan jiwaku
Terima kasih atas segala yang telah kamu berikan.

Cinta. Rindu. Sayang. Semuanya. Semua yang sangat kusayangkan, yang tak mampu aku menerimanya. Terlalu besar yang kamu berikan padaku, Fauzan.

Fauzan, permata hidupku
Semoga ini menjadi kesalahan terakhirku menyia-nyiakan kebaikan kekasih sepertimu. Kelak, akan kau temukan cinta seperti yang kamu dambakan. Pasti ada, Fauzan. Pasti ada. Pasti ada satu untukmu. Kelak.

Fauzan,
Tak bisa kupungkiri bahwa sekuat apa aku berusaha mencintaimu, semakin kuat pula ingatan akan cinta yang telah lalu membayangiku.
Ada dia di matamu.
Ada dia di matamu. Ada dia di senyummu, ada dia di indahmu. Dan ada dia di sini. Di hatiku.

Fauzan,
Baik kubatalkan saja meja panjang di pojok restaurant yang telah lama kita pesan. Karena aku tak mungkin duduk sendiri tanpa hadirmu. Aku tidak ingin terlihat sangat menyedihkan dengan kesendirian, dengan kesepian, dengan segala hampa yang melekat.

Fauzan, kekasihku
Lelaplah dalam tidurmu. Do’aku menyertaimu selalu. Suatu saat kita akan bertemu, menikmati indah dari cakrawala yang kita lukis, bersama. Sampai jumpa kekasih terbaik. Pesankan stu tempat terbaik untukku di sini, sayang.
Sampai bertemu di kehidupan yang belum pernah kita mengerti.





3 komentar:

  1. untuk saya gak lihat suratnya diakhiri dengan
    "kasihmu, Fauzi"

    BalasHapus
  2. Fauzan bunuh diri nih ceritanya? atau...?

    BalasHapus